Habanusantara.net, Pagi itu, dentuman palu terdengar berulang dari sebuah bengkel sederhana di samping rumah. Beratap daun rumbia dan bertiang kayu, tempat itu tampak jauh dari kesan modern. Namun dari ruang kecil itulah, sebuah warisan budaya Aceh terus dijaga.
Setiap hentakan besi yang dipukul, disusul desisan panas saat logam disentuhkan ke air, menghadirkan suasana yang seolah membawa kembali ke masa lalu—tradisional, kuat, dan penuh makna.
Di Desa Pande, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, nama Utoh Ishak menjadi satu yang tersisa dalam tradisi panjang pembuatan rencong. Dari yang dulunya terdapat beberapa pengrajin, kini hanya dirinya yang masih bertahan.
Ia menjaga api yang perlahan mulai meredup, di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat.
“Pandai besi banyak, tapi pandai rencong sisa saya. Sekarang saya sudah ajari anak laki-laki saya, dan dia sudah bisa. Mudah-mudahan dia bisa jadi penerus,” ujarnya, dengan nada sederhana namun penuh harap.
Sejak 1983, Ishak Abdullah—nama asli Utoh Ishak—telah mengabdikan hidupnya untuk menempa besi menjadi Rencong. Keahlian itu bukan datang begitu saja. Ia mewarisinya dari orang tua dan leluhur, menjadikannya bagian dari rantai panjang tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Bagi masyarakat Aceh, rencong bukan sekadar senjata. Ia adalah simbol kehormatan, keberanian, sekaligus identitas. Dalam setiap bilahnya, tersimpan nilai-nilai budaya dan spiritual yang kuat. Bentuknya yang menyerupai kaligrafi Bismillah menjadi pengingat bahwa setiap tindakan memiliki landasan nilai dan keyakinan.
Namun di balik makna filosofis tersebut, proses pembuatannya tidaklah sederhana. Utoh Ishak harus melalui tahapan panjang—memilih bahan, memanaskan besi hingga membara, menempa dengan ritme yang konsisten, hingga membentuk dan menghaluskan setiap detailnya. Semua dikerjakan secara manual, mengandalkan tenaga, ketelitian, dan pengalaman.
Baca juga : Pesona Masjid HM Hanafiah, Destinasi Religi Aceh Utara yang Viral dan Curi Perhatian Musafir
Dalam satu hari, ia bisa menyelesaikan satu rencong berukuran kecil. Namun untuk ukuran besar atau dengan detail ukiran khusus, prosesnya bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu. Tidak semua orang sanggup menjalani pekerjaan ini, apalagi mempertahankannya selama puluhan tahun.
“Yang bikin senjata tajam banyak, tapi yang bikin rencong itu susah,” katanya singkat.
Sebelum pandemi COVID-19, hasil karyanya bahkan pernah menembus pasar luar negeri. Pesanan datang dari kolektor hingga pecinta budaya.
Namun setelah pandemi, permintaan menurun drastis. Kini, rencong lebih sering dibeli sebagai cendera mata atau koleksi pribadi, bukan lagi sebagai kebutuhan budaya yang hidup dalam keseharian.
Harga rencong yang ia buat bervariasi, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp3 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Namun bagi Utoh Ishak, nilai sebenarnya bukan pada harga, melainkan pada proses dan makna yang terkandung di dalamnya.
Rencong sendiri telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2013. Meski demikian, pengakuan tersebut belum sepenuhnya menjamin keberlanjutan tradisi. Tantangan terbesar justru datang dari minimnya minat generasi muda untuk mempelajari dan meneruskan keahlian ini.
Di tengah kondisi tersebut, harapan kini bertumpu pada satu garis keturunan. Anak laki-laki Utoh Ishak menjadi satu-satunya yang mulai belajar dan memahami proses pembuatan rencong. Ia diajarkan sejak dini, bukan hanya teknik, tetapi juga nilai yang menyertainya.
Bagi kalangan pemerhati budaya dan pariwisata, regenerasi menjadi kunci agar tradisi ini tidak berhenti. Rencong tidak boleh hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi harus tetap hidup sebagai bagian dari identitas Aceh di masa kini dan masa depan.
baca juga : Jejak Kejayaan Pasai di Makam Sultanah Nahrasiyah, Saksi Bisu Kejayaan Islam di Asia Tenggara
Duta wisata Aceh Utara, Muqsal Mina menilai, keberadaan pengrajin seperti Utoh Ishak bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga identitas daerah yang mulai tergerus zaman.
“Kerajinan seperti rencong ini bukan hanya soal benda, tapi tentang jati diri orang Aceh. Kalau tidak ada regenerasi, kita khawatir ke depan rencong hanya tinggal cerita atau pajangan museum,” ujarnya.![Utoh Ishak Seorang perajin tradisional di Aceh Utara befoto bersama dengan Duta Wisata Aceh Utara dan memperlihatkan Rencong hasil Kerajinannya di Desa Pande, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara[Foto/HO For Habanusantara/Muqsalmina]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-15-at-15.20.42.jpeg)
Utoh Ishak memahami betul hal itu. Ia tidak berharap banyak, selain agar keahlian yang diwarisinya tidak hilang begitu saja. Ia ingin apa yang ia kerjakan hari ini bisa terus dilanjutkan, meski zaman telah berubah.
Di bengkel kecilnya, api tungku masih menyala setiap hari. Dentuman palu masih terdengar, membentuk besi menjadi bilah yang sarat makna. Namun lebih dari itu, api tersebut sejatinya sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih besar—sebuah warisan, sebuah identitas, dan sebuah cerita tentang Aceh yang tak boleh padam.
“Harapannya tentu ada perhatian lebih, baik dari segi promosi maupun pembinaan. Supaya pengrajin tidak berjalan sendiri, dan generasi muda juga melihat ini sebagai sesuatu yang layak dilanjutkan,” tambahnya.
Di tanah Tanah Pasir, di tengah kesederhanaan yang nyaris terlupakan, Utoh Ishak terus bekerja dalam diam.
Ia mungkin hanya seorang pengrajin, tetapi dari tangannya, sejarah tetap hidup—dalam bentuk rencong yang ditempa dengan hati, dan dalam harapan agar tradisi ini tidak benar-benar hilang ditelan zaman.[***]

![Utoh Ishak Seorang perajin tradisional di Aceh Utara tengah menempa besi menjadi rencong, senjata khas Aceh yang sarat nilai budaya di Desa Pande, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara[Foto/HO For Habanusantara/Muqsalmina]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2026/04/api.webp)



