Wisata

Kemegahan Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh yang Memancarkan Pesona Spiritualitas dan Budaya

×

Kemegahan Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh yang Memancarkan Pesona Spiritualitas dan Budaya

Sebarkan artikel ini

Habanusantara.net – Di pusat Kabupaten Aceh Barat berdiri sebuah bangunan monumental yang sejak lama menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Masjid Agung Baitul Makmur, dengan segala keanggunan dan detail arsitekturnya, menghadirkan perpaduan harmonis antara kekuatan spiritual dan keindahan budaya yang menyatu dalam satu mahakarya. Bukan hanya tempat ibadah, masjid ini telah tumbuh menjadi ikon daerah sekaligus destinasi wisata religi yang memikat siapa saja yang datang berkunjung.

Saat senja merayap turun di langit Meulaboh, suasana di sekitar masjid berubah menjadi lebih syahdu. Lampu-lampu mulai menyala, memancarkan cahaya hangat yang memantul pada permukaan kubah merah tembaga. Siluet bangunan megah dengan warna biru keabu-abuan langit sore menciptakan panorama yang menenangkan—perpaduan keindahan visual dan atmosfir spiritual yang sulit dilupakan oleh siapa saja yang menyaksikannya.

Dibangun dengan konsep akulturasi, Masjid Agung Baitul Makmur menggabungkan tiga pengaruh arsitektur besar: Timur Tengah, Asia, dan budaya lokal Aceh. Ketiganya dipadukan secara seimbang sehingga melahirkan tampilan arsitektur yang unik, berbeda dari masjid-masjid lain di wilayah Aceh maupun Indonesia pada umumnya. Identitas visual yang kuat ini menjadikan masjid tersebut salah satu landmark paling ikonik di Aceh Barat.

Bagian paling mencolok dari bangunan ini adalah tiga kubah utamanya. Satu kubah besar berdiri megah di tengah, sementara dua kubah lainnya yang lebih kecil terletak di sisi kiri dan kanan. Warna merah tembaga yang membungkus seluruh kubah memberikan kesan mewah sekaligus klasik. Bentuk kubah yang bulat sempurna dengan ujung runcing di puncaknya mencerminkan ciri khas arsitektur Timur Tengah, namun pilihan warnanya memberikan karakter tersendiri yang jarang ditemukan pada masjid-masjid lain.

Dari sisi fasad, warna krem dan terracotta mendominasi hampir seluruh permukaan bangunan. Tekstur dinding yang berlapis dipadukan dengan motif geometris pada bagian lengkungan, menciptakan kedalaman visual yang memikat. Pilar-pilar besar yang menjulang, sebagian dengan sentuhan marmer cokelat, mempertegas kesan kokoh dan monumental. Sementara itu, bagian lengkungan pada lantai dasar menampilkan pola geometris rumit yang menggambarkan nuansa Asia sekaligus unsur seni lokal Aceh.

Di sisi kanan bangunan, menara masjid berdiri gagah dengan struktur bertingkat. Menara ini tidak hanya menjadi elemen estetika, tetapi juga berfungsi sebagai penanda visual yang memperkuat karisma arsitektur masjid. Bentuknya yang tegas dengan tekstur beton dan jendela-jendela tinggi berhiaskan kisi-kisi memberikan dimensi tambahan pada keseluruhan desain bangunan.

Saat malam tiba, sistem pencahayaan di sekitar masjid semakin menonjolkan keelokan bangunan. Lampu sorot yang ditempatkan di berbagai titik menghadirkan efek dramatis yang memperjelas garis-garis arsitektur, ornamen, dan lengkungan. Cuplikan bayangan yang terbentuk oleh perpaduan cahaya dan struktur bangunan membuat masjid tampak semakin agung dan menawan.

Masjid Agung Baitul Makmur berdiri di atas lahan seluas 5,2 hektare, dengan bangunan utama mencapai 3.500 meter persegi. Skalanya yang besar memungkinkan masjid ini menampung hingga 7.000 jemaah sekaligus. Kapasitas besar ini menjadikan masjid sebagai pusat berbagai kegiatan keagamaan di Aceh Barat, terutama pada momen-momen seperti Ramadan, hari raya, dan kegiatan besar Islam lainnya.

Tidak hanya masyarakat Meulaboh saja yang menjadikannya sebagai tempat ibadah, tetapi juga banyak wisatawan lokal dari berbagai daerah yang sengaja berkunjung untuk melihat langsung kemegahan arsitekturnya. Salah satunya adalah Putri, seorang pengunjung dari Sigli, Kabupaten Pidie, yang pada sore hari terlihat berdiri terpukau di halaman masjid. Tatapannya tak lepas dari detail-detail bangunan yang memadukan unsur budaya dari berbagai belahan.

“Saya sudah sering mendengar tentang masjid ini, tetapi melihat langsung kemegahannya jauh lebih memukau,” ujarnya dengan mata berbinar. Putri mengatakan bahwa ia sengaja menyempatkan diri singgah di Meulaboh di tengah perjalanan panjangnya, semata-mata untuk bisa melihat serta beribadah di masjid ini.

Ia mengaku takjub melihat bagaimana warna krem yang lembut dipadukan dengan kubah merah tembaga yang kuat dan kokoh. Menurutnya, perpaduan unsur-unsur dari berbagai budaya ini tidak hanya menunjukkan kemegahan visual, tetapi juga merepresentasikan kebesaran peradaban Islam di Aceh. “Ada kesan tenang, tapi pada saat yang sama terasa megah,” tambahnya.

Bagi Putri dan banyak pengunjung lain, Masjid Agung Baitul Makmur bukan hanya sekadar tempat untuk melaksanakan salat. Masjid ini memberikan pengalaman yang lebih dalam: pelajaran tentang sejarah, seni, nilai persatuan, dan bagaimana budaya dapat menyatu indah dalam satu struktur bangunan.

Ketika azan magrib berkumandang dan jemaah mulai memadati area dalam masjid, suasana terasa semakin damai. Di bawah langit yang perlahan menggelap, masjid ini berdiri teguh sebagai simbol spiritualitas dan akulturasi budaya yang kaya. Masjid Agung Baitul Makmur bukan hanya tempat sujud, tetapi juga monumen hidup yang menceritakan perjalanan panjang masyarakat Aceh dalam merawat iman dan memperkaya budaya mereka.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Bahasa Aceh bukan hanya sarana berbicara, tetapi jiwa kebudayaan yang terus hidup dalam denyut masyarakat Tanah Rencong. Di tengah arus modernisasi, bahasa ini tetap menjadi penanda jati diri yang menghubungkan…

close