Habanusantara.net – Sejumlah destinasi wisata unggulan di Banda Aceh mendapat perhatian langsung dari pejabat Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI.
Asisten Deputi Strategi Event Kemenpar RI, Fransiskus Handoko meninjau beberapa lokasi wisata ikonik, sekaligus membahas peluang masuknya event dari Banda Aceh ke dalam Kalender Event Nasional (KEN) 2026, Jumat 31 Oktober 2025.
Dalam kunjungan kerja itu, Fransiskus ditemani Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Ir. Muhammad Siswanto, ST., MT., Kabid Promosi, Pemasaran, dan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata Triansyah Putra, Kabid Destinasi, Faidian bersama jajarannya.
Mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain di dalam kota Banda Aceh.
Mulai dari PLTD Apung yang menjadi saksi bisu dahsyatnya tsunami 2004, lalu menyambangi Kapal di Atas Rumah di Lampulo, hingga beberapa spot yang selama ini jadi incaran wisatawan ketika singgah di ibu kota Provinsi Aceh. Semua dilihat langsung, didengar ceritanya, dinilai potensinya.
Siswanto mengatakan bahwa kunjungan itu bukan sekadar jalan-jalan atau sekadar memperlihatkan keindahan dan sejarah Banda Aceh. Ada hal yang lebih besar sedang dirancang: bagaimana Banda Aceh bisa kembali masuk dalam peta event nasional tahun 2026.
Ia menyebut bahwa kota Banda Aceh punya keunikan, punya budaya kuat, dan punya potensi ekonomi kreatif yang belum sepenuhnya dimaksimalkan.
Di sela diskusi bersama Fransiskus, Siswanto mengungkapkan rencana mengusulkan satu event unggulan khas Banda Aceh ke KEN 2026.
Event itu bernama “Banda Aceh Colossal Coffee Experience”. Sebuah konsep baru yang ingin mengangkat kekayaan kopi Aceh, cara penyajiannya yang otentik, sejarah kopi yang begitu melekat di masyarakat, sampai budaya nongkrong warganya yang tak bisa dipisahkan dari secangkir kopi.
“Banda Aceh akan mengusulkan Banda Aceh Colossal Coffee Experience masuk dalam KEN 2026. Ini bukan hanya soal kopi, ini soal identitas, soal ekonomi kreatif yang bisa hidup dari gelas ke gelas,” kata Siswanto sembari menyebut bahwa ide ini mendapat sambutan positif dari pihak Kemenparekraf.
Menurutnya, bila usulan ini tembus dan menjadi bagian dari agenda resmi nasional, dampaknya sangat luas.
Bukan hanya bagi pelaku UMKM kopi dan ekonomi kreatif lainnya, namun juga bagi sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, bahkan citra Banda Aceh sebagai kota tujuan wisata halal dan sejarah.
Wisatawan tak lagi hanya datang ke museum tsunami atau melihat kapal besar yang tersangkut di tengah permukiman, tapi juga merasakan pengalaman yang lebih hidup dan interaktif—menikmati kopi Aceh langsung di tempat asal ceritanya bermula.

Diskusi mereka juga menyentuh gagasan positioning baru Banda Aceh, salah satunya tentang label “Banda Aceh Kota Parfum Indonesia”.
Ada ide menarik, unik, dan agak tak terduga di situ. Kota yang dikenal religius dan sarat sejarah ini mulai ingin dikenal dunia melalui aroma, inovasi parfum lokal, dan identitas kreatif yang berbeda dibandingkan kota lain.[is]




















