Rekam Jejak Nasional
Karier Marzuki tidak hanya berputar di Aceh. Ia pernah bertugas di Sumatera Utara dengan berbagai jabatan strategis. Pada 2008, ia ditunjuk sebagai Kapolres Binjai, lalu Kapolres Dairi, Kapolres Simalungun pada 2010, dan Kapolres Asahan pada 2011.
Rentetan penugasan ini membentuk profilnya sebagai perwira yang berpengalaman di daerah dengan tingkat kerawanan yang tinggi.
Selain di lapangan, Marzuki juga memiliki pengalaman panjang di bidang sumber daya manusia dan auditor.
Keahlian ini akan menjadi modal penting dalam mengelola internal Polda Aceh, apalagi di tengah tantangan penegakan hukum yang semakin kompleks.
Tantangan di Depan Mata
Sebagai kapolda baru, Marzuki dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah. Mulai dari menjaga situasi keamanan menjelang dan pasca Pilkada Serentak 2025, penanggulangan peredaran narkoba lintas negara, hingga penanganan isu-isu sosial yang kerap muncul di Aceh.
Dengan pengalamannya, publik menaruh harapan besar agar ia mampu membawa Polda Aceh lebih responsif dan dekat dengan masyarakat.
“Beliau sudah sangat mengenal Aceh, tidak hanya dari sisi geografis, tapi juga kultur masyarakatnya. Harapannya, koordinasi dengan pemerintah daerah, ulama, dan tokoh masyarakat bisa berjalan optimal,” ujar seorang perwira menengah di Polda Aceh yang enggan disebutkan namanya.
Dengan penempatan ini, Marzuki bukan sekadar kembali bertugas di wilayah yang familiar, tetapi juga membawa beban tanggung jawab untuk menjaga stabilitas keamanan daerah yang strategis ini.
Bagikan artikel ini agar lebih banyak orang mengetahui profil Kapolda Aceh yang baru dan ikuti terus update kabar terbarunya di sini.[]




















