![Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Daniel Abdul Wahab saat membuka perlombaan galah di Lapangan Lambung, Kota Banda Aceh, Minggu 17 Agustus 2025 [Foto/For habanusantara]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2025/08/d1b32611-ab0d-428f-8680-df97c9f9007e.jpg)
Perlombaan ini membawa nuansa nostalgia bagi warga kota, terutama generasi yang dulu akrab dengan permainan penuh strategi dan kekompakan itu.
Lomba itu diselenggarakan Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Daniel Abdul Wahab di Lapangan Gampong Lambung, tempat lomba digelar penuh sorak-sorai penonton.
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Daniel Abdul Wahab, mengatakan lomba galah atau samar elang ini digelar untuk menghidupkan kembali permainan rakyat yang hampir tak lagi dijumpai di perkotaan.
“Permainan galah ini dulu sangat populer di kampung-kampung. Anak-anak main sore sampai lupa waktu. Kami ingin memperkenalkan kembali ke generasi muda, supaya tahu kalau kita punya permainan tradisional yang seru dan menyehatkan,” ujar Daniel di sela perlombaan, di Lapangan Gampong Lambung, Kecamatan Meuraxa, Minggu (17/8/2025).
Daniel berharap, ke depan permainan rakyat seperti galah terus dilestarikan.

Menurutnya, perlombaan ini bukan hanya hiburan semata, tapi juga bagian dari upaya menjaga identitas budaya dan kebersamaan masyarakat.
“Anak-anak sekarang sudah jarang tahu main galah. Padahal dulu permainan ini sangat populer dan membangun kerja sama tim. Momentum HUT RI ini pas sekali untuk memperkenalkannya kembali,” kata Daniel.
Peserta lomba tampak antusias. saat peserta lomba ikut mencoba menaklukkan garis-garis lapangan dengan strategi menghalangi dan menembus pertahanan lawan.
Tawa pecah ketika ada yang salah langkah atau gagal melewati garis. Keseruan ini mengingatkan banyak orang pada masa kecil saat permainan sederhana seperti galah menjadi hiburan utama di halaman rumah atau lapangan desa.
Selain seru, permainan samar elang juga mengajarkan kekompakan, kecepatan, dan strategi. Bagi sebagian warga, permainan ini membangkitkan kenangan masa kecil.
“Rasanya nostalgia sekali. Dulu tiap sore kami main galah, sekarang anak-anak lebih sering main HP. Jadi senang bisa lihat lomba kayak gini lagi,” kata Dayat, salah seorang warga yang menonton.
Menurutnya, lomba seperti ini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga cara menjaga warisan budaya lokal yang sarat nilai kebersamaan dan sportivitas.
“Ini luar biasa. Permainan yang hampir hilang bisa dikenalkan lagi ke generasi sekarang,” ujar salah seorang warga yang ikut menonton.[is]




















