Sejarah Hari Ayah Nasional di Indonesia
Mungkin kamu bertanya, “Lho, sejak kapan sih Indonesia punya Hari Ayah sendiri?” Nah, ini menarik.
Hari Ayah Nasional di Indonesia bukan ditetapkan oleh pemerintah pusat lewat undang-undang, melainkan lahir dari gerakan masyarakat. Pada 2004, Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP) mengadakan lomba menulis surat untuk ibu di Surakarta, Jawa Tengah. Karena antusiasmenya tinggi, muncul ide: kenapa nggak bikin juga untuk ayah?
Akhirnya, PPIP menggagas Hari Ayah Nasional dan mendeklarasikannya pada 12 November 2006. Acara ini digelar di Balai Kota Solo, lengkap dengan sungkeman dan pengumpulan surat untuk ayah. Keren, ya? Surat-surat itu kemudian dibukukan jadi “Kenangan untuk Ayah” dan diserahkan ke Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.
Walau belum masuk kalender sebagai hari libur nasional, semangat peringatannya tetap hidup hingga sekarang.
Bermula dari Seorang Anak Perempuan
Kalau Hari Ibu punya akar sejarah dari para aktivis perempuan, Hari Ayah justru bermula dari cinta seorang anak perempuan pada ayahnya.
Tahun 1909 di Spokane, Washington, seorang wanita bernama Sonora Smart Dodd terinspirasi setelah mendengar khotbah tentang Hari Ibu. Ayahnya, William Jackson Smart, adalah veteran Perang Saudara yang membesarkan enam anak sendirian setelah sang istri meninggal dunia.
Sonora berpikir, “Kalau ada Hari Ibu, kenapa nggak ada Hari Ayah?” Usulan ini kemudian mendapat sambutan, dan pada 19 Juni 1910, Hari Ayah pertama kali dirayakan secara resmi.
Perjuangan Sonora tidak sia-sia. Setelah bertahun-tahun kampanye, akhirnya pada 1972, Presiden Amerika Serikat Richard Nixon menetapkan Hari Ayah sebagai hari libur nasional. Sejak itu, banyak negara lain ikut memperingatinya, termasuk Indonesia — walau kita juga punya versi lokal sendiri.




















