ADVERTORIAL

Pentingnya Konseling Pra-Nikah Sebagai Upaya Mencegah KDRT Hingga Stunting

×

Pentingnya Konseling Pra-Nikah Sebagai Upaya Mencegah KDRT Hingga Stunting

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana dp3ap2kb Kota Banda Aceh Cut Azharida Sh
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Cut Azharida SH

Habanusantara.net- Dalam upaya mencegah dampak buruk seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan stunting pada generasi yang akan datang, pentingnya konseling pra-nikah menjadi fokus serius.

 

Hal ini merupakan respons terhadap Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting yang menekankan perlunya pencegahan stunting sejak tiga bulan sebelum pernikahan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Cut Azharida, mengungkapkan bahwa tingginya angka anemia dan kurang gizi pada remaja putri sebelum menikah menjadi faktor utama dalam terjadinya stunting pada anak yang akan dilahirkan.

 

Oleh karena itu, konseling pra-nikah menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan stunting.

“Dengan konseling pra-nikah, stunting bisa kita tekan, dan setiap keluarga dapat melahirkan generasi yang berkualitas,” ujarnya.

 

Cut Azharida menjelaskan bahwa dalam pencegahan stunting, DP3AP2KB Kota Banda Aceh bekerja secara sinergis dengan berbagai sektor, termasuk Kementerian Agama yang memberikan pembekalan kepada calon pengantin.

“Saat ini, tiga bulan sebelum pernikahan, calon pengantin harus menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan ini merupakan upaya pencegahan stunting dari awal,” jelasnya.

 

Calon pengantin (catin) menjadi salah satu fokus utama dalam program prioritas pencegahan stunting karena mereka akan menjadi para orang tua yang bertanggung jawab atas generasi masa depan.

Untuk mencegah stunting, pasangan calon pengantin harus memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, memahami informasi yang benar tentang kapan akan memiliki anak, termasuk jumlah anak dan jarak kelahirannya, serta menerapkan pola asuh yang tepat.

 

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai sejak janin hingga anak berusia 23 bulan.

“Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Stunting harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kemampuan kognitif anak tidak maksimal yang disertai dengan perkembangan fisik yang terhambat,” tambah Cut Azharida.

 

Pentingnya konseling pra-nikah sebagai langkah pencegahan stunting tidak hanya memberikan dampak positif dalam mencegah stunting, tetapi juga dalam membangun keluarga yang sehat dan harmonis, serta mengurangi risiko terjadinya KDRT.[ADV]

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

close
error: