Habanusantara.net, Anjing hutan (ajag) selama beberapa pekan terakhir kerap memangsa puluhan ternak sapi di Kecamatan Sukamakmur dan Kuta Malaka, Aceh Besar. Menyikapi hal tersebut, Penjabat (Pj) Bupati Aceh Besar Muhammad Iswanto menerjunkan langsung tim yang dipimpin Kadis Pertanian Aceh Besar Jakfar SP dan unsur Muspika untuk menangani gangguan anjing hutan (ajag) itu.
Selain tim dari Aceh Besar, terlihat juga Kadis Peternakan Provinsi Aceh Zalsufran, dan pihak BKSDA Aceh yang dipimpin Rahmat.
Tim penanganan gangguan anjing hutan itu sempat berdialog dengan sejumlah peternak di dua kecamatan, masing masing Sukamakmur dan Kuta Malaka.
Ketika berada di Gampong Luthu, Kecamatan Sukamakmur, mereka mendengarkan keluh kesah warga yang sapinya menjadi korban mangsa sekelompok ajag beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan itu, beberapa warga yang lembunya menjadi korban berharap kepada pihak BKSDA maupun Tim Kabupaten dan Provinsi agar segera mencarikan solusi sehingga ancaman ajag dapat segera diatasi.
“Lembu milik saya yang mati akibat dimangsa ajag mencapai 10 ekor,” ungkap Ridwan salah seorang warga gampong setempat.
Nasib serupa juga dialami peternak lainnya di Kecamatan Sukamakmur, seperti Zubir, Maimun, dan Syahroni. Karena mengingat ancaman ajag semakin ganas, mereka akhirnya tidak lagi melepas lembu di gunung, melainkan dikandangkan di areal kebun atau kandang yang dekat dengan pemukiman penduduk.
“Lembu milik warga yang telah dimangsa sangat banyak, mulai induk sapi hingga anak sapi,” jelasnya.
Hal yang sama juga diungkapkan para peternak di Gampong Lam Ara Tunong, Kecamatan Kuta Malaka. Bahkan, lembu yang sudah dikandangkan, juga tak luput dari terkaman ajag.
Sementara itu, Munawar, Keuchik Lam Ara Tunong mengharapkan kepada pihak BKSDA Aceh, tim dari Provinsi Aceh, dan tim dari kabupaten Aceh Besar agar bertindak cepat untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak akibat gangguan ajag tersebut.
Menanggapi keluhan masyarakat itu, Kadistan Aceh Besar Jakfar didampingi Kadis Peternakan Aceh Zalsufran dan pejabat BKSDA Aceh mengatakan, pihaknya segera merespons keluhan para peternak tersebut. Untuk sementara waktu, para pejabat itu meminta agar hewan ternak dikandangkan di dekat pemukiman yang mudah dipantau sehingga dapat mencegah gangguan dan ancaman ajag.
“Kami meminta para keuchik dan camat agar segera mendata jumlah lembu masyarakat yang menjadi korban. Mudah-mudahan dengan dukungan kita semua, masalah ini akan segera tertangani,” ujarnya.
Kadis Peternakan Aceh, Zalsufran menambahkan, dukungan pihak BKSDA Aceh juga sangat dibutuhkan, sehingga gangguan ajag bisa tertangani segera.[Bar]




















