Oleh sebab itu, Helvizar juga meminta semua stakeholder ikut mendukung langkah pemerintah Aceh perihal produk lokal. Sebelumnya, Pemerintah Aceh telah memerintahkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) supaya membelanjakan produksi lokal untuk kebutuhan setiap instansinya.
“Cintai saja produksi kita. Jika kita belanjakan produksi kita, maka geliat ekonomi akan bangkit,” kata Plt Sekda.
Helvizar mencontohkan, kelapa sawit dapat dijadikan 42 jenis barang produksi. Namun ia menyayangkan, petani Aceh hanya mampu menghasilkan CPO saja dari buah kelapa sawit yang dipanen.
“Yang ingin saya sampaikan, nilai tambah dari kelapa sawit bukan dari TBS ( Tandanya Buah Segar) maupun CPO. Tapi ketika dia menjadi lipstik, sabun itulah nilai tambahnya,” tutur Helvizar.
Untuk itu, kata Helvizar, Alumni SMK PP Negeri Saree harus mampu mengembangkan produksi hasil pertanian. Apalagi, sambung dia, saat ini anak muda dapat berwirausaha di sektor pertanian dengan menggunakan teknologi mekanisasi tanpa perlu repot lagi menggunakan cangkul seperti dulu.













