Habanusantara.net — Tiga santri TPA As-Sa’adah membuktikan bahwa sebuah prestasi tidak lahir secara instan. Di balik penampilan mereka pada Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) Kota Banda Aceh, ada latihan, kekompakan, kreativitas, hingga keberanian tampil di hadapan dewan juri.
Khadijah Najiha Shadiqa, Fahira Azkiya, dan Siti Aisyah menjadi bagian dari Tim Nasyid Islami TPA As-Sa’adah yang berhasil meraih Juara 1 Cabang Nasyid Islami pada ajang tersebut.
Yang membuat pencapaian itu semakin menarik, penampilan mereka tidak sekadar mengandalkan materi yang sudah ada. Tim mengembangkan sendiri aransemen musik yang digunakan, sehingga tampil dengan warna musikal dan karakter yang berbeda.
Proses kreatif itu berawal dari referensi penampilan FASI Nasional 2023. Materi tersebut dipelajari untuk mendapatkan gambaran dan inspirasi, kemudian dikembangkan kembali melalui latihan dan pengolahan musikal.
Aransemen tidak diambil atau disalin secara utuh. Tim mengolahnya secara mandiri, termasuk melakukan improvisasi dari bagian pembuka hingga penutup.
Tantangannya, seluruh konsep tersebut harus dikuasai para santri dalam waktu yang relatif singkat.
Mereka tidak hanya dituntut menghafal materi, tetapi juga memahami alur musikal, membangun kekompakan, menguasai bagian masing-masing serta menyiapkan mental dan kepercayaan diri sebelum tampil.
Di balik proses tersebut, ada pendampingan yang intensif. Ketua Kafilah TPA As-Sa’adah, Najia Mifrah, turut membersamai persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.
Sementara itu, Siti Sumayyah Athaillah selaku Pembimbing Nasyid Islami memberikan pendampingan dan pelatihan kepada para santri selama masa persiapan hingga hari perlombaan.
Wakil Direktur TPA As-Sa’adah juga turut mendukung proses persiapan bersama seluruh tim yang terlibat.
Kerja bersama antara santri, pembimbing dan official itu kemudian berbuah hasil. Tim Nasyid Islami TPA As-Sa’adah berhasil membawa pulang posisi tertinggi pada cabang yang mereka ikuti.
Namun, bagi tim, kemenangan tersebut bukan sekadar soal piala.
Ada proses belajar yang menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. Para santri mendapat pengalaman bahwa tampil di atas panggung membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bernyanyi.
Kedisiplinan dalam latihan, keberanian, kekompakan, kreativitas serta dukungan orang-orang di belakang mereka menjadi bagian yang ikut menentukan hasil akhir.
Juara 1 akhirnya menjadi buah dari proses tersebut—sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa ketika kreativitas diberi ruang dan latihan dijalani dengan sungguh-sungguh, panggung perlombaan dapat menjadi tempat anak-anak belajar sekaligus berkembang.[*]





