Habanusantara.net, – Pola hidup tak sehat dan kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kasus penyakit tidak menular, khususnya hipertensi dan diabetes melitus (DM).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, dr. Supriyadi, mengatakan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mencegah kedua penyakit tersebut.
Menurutnya, banyak masyarakat, terutama kelompok pekerja, memiliki aktivitas harian yang padat tetapi tidak diimbangi dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang cukup.
“Penyebabnya tentu pola hidup tidak sehat, baik itu pola makan, asupan, maupun aktivitas fisik yang kurang. Banyak orang bekerja dari pagi sampai sore, tetapi konsumsi makanannya tidak seimbang dan tidak melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang cukup,” ujar Supriyadi, Kamis (10/9/2026).
Ia menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi tanpa diimbangi aktivitas fisik dapat menyebabkan kelebihan energi dalam tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan gangguan metabolisme yang berisiko memicu diabetes.
“Ketika asupan energi lebih besar dibandingkan yang digunakan tubuh, maka dapat terjadi penumpukan lemak. Kondisi tersebut, terutama jika disertai kurang aktivitas fisik, dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme termasuk naiknya kadar gula darah,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat diimbau menerapkan pola hidup lebih sehat dengan menjaga keseimbangan makanan, memperhatikan jumlah asupan karbohidrat, memperbanyak konsumsi protein, sayur, dan buah, serta rutin melakukan aktivitas fisik.
Selain perubahan gaya hidup, Supriyadi menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. Hal ini karena hipertensi dan diabetes sering berkembang tanpa disadari karena gejalanya tidak selalu muncul pada tahap awal.
“Banyak orang tidak sadar kalau dirinya sudah memiliki kecenderungan atau bahkan sudah mengalami penyakit tersebut. Karena itu, skrining menjadi penting untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang sejak dini,” katanya.
Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh terus melakukan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai layanan, baik saat warga berkunjung ke puskesmas, melalui media sosial, maupun kegiatan pelayanan kesehatan di tingkat gampong.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemeriksaan atau skrining kesehatan melalui puskesmas dan kegiatan Posyandu Terintegrasi (ILP). Melalui pemeriksaan tersebut, masyarakat yang memiliki risiko maupun telah terdiagnosis hipertensi dan diabetes dapat segera mendapatkan pendampingan.
“Setelah diketahui hasil skrining, akan dilakukan pendampingan, konseling oleh dokter, serta diberikan anjuran pengobatan. Biasanya akan dilihat perkembangannya selama satu sampai tiga bulan untuk kemudian dievaluasi,” jelas Supriyadi.
Ia berharap masyarakat tidak menunggu munculnya keluhan atau komplikasi untuk memeriksakan kesehatan. Dengan deteksi dini dan perubahan pola hidup, risiko penyakit serta dampak lanjutan akibat hipertensi dan diabetes dapat dikendalikan.[***]





