Makam Sultan Malikussaleh: Jejak Awal Peradaban Islam yang Tersimpan di Tanah Pasai

Redaksi
Makam Sultan Malikussaleh di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara
Makam Sultan Malikussaleh di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara [Foto/HO Habanusantara/Muqsalmina]
A-AA+A++

Habanusantara.net, Langkah kaki perlahan memasuki sebuah kawasan sunyi di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Pepohonan rindang menaungi area yang sarat sejarah, menghadirkan suasana tenang sekaligus khidmat. Di tempat inilah, jejak awal peradaban Islam di Nusantara masih terjaga—melalui sebuah kompleks makam yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah.

Kompleks itu adalah Kompleks Makam Sultan Malikussaleh, tempat peristirahatan terakhir Sultan Malikussaleh, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Samudera Pasai.

Didirikan pada abad ke-13, Samudera Pasai dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Dari wilayah pesisir utara Aceh inilah, ajaran Islam mulai berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru kawasan. Sultan Malikussaleh, yang memerintah sekitar tahun 1267 hingga 1297 Masehi, menjadi tokoh sentral dalam proses tersebut.

Sebagai pemimpin, ia dikenal adil dan bijaksana. Namun lebih dari itu, perannya dalam membangun fondasi peradaban Islam menjadikannya sosok penting dalam sejarah Indonesia. Kini, makamnya tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga ruang refleksi tentang awal mula perjalanan Islam di tanah ini.

Memasuki kompleks makam, deretan batu nisan khas Aceh tampak berdiri kokoh. Ukiran kaligrafi Arab menghiasi permukaannya, berpadu dengan ornamen yang halus dan detail. Salah satu nisan bahkan disebut sebagai nisan Islam tertua di Sumatra, dengan pahatan ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan kuatnya pengaruh Islam sejak masa itu.

Di area ini pula terdapat papan informasi sejarah yang menjelaskan keagungan sosok Sultan Malikussaleh. Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa nisan beliau tidak hanya menjadi penanda makam, tetapi juga bukti penting perkembangan peradaban Islam di Nusantara, bahkan menunjukkan hubungan dengan dunia Islam yang lebih luas.

Di balik itu, terdapat pula perdebatan sejarah yang masih sering dibicarakan. Sukarna Putra dari CISAH (Central Information of Samudra Pasai Heritage) menjelaskan bahwa selama ini banyak yang menganggap Sultan Malikussaleh sebagai seorang mualaf dengan nama awal Meurah Silu. Namun menurutnya, hal tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan bukti yang ada.

“Banyak yang mengatakan Sultan Malikussaleh adalah mualaf dengan nama Meurah Silu, tapi dari tulisan yang ada di makamnya dapat kita simpulkan beliau adalah seorang muslim sejak lahir,” jelasnya.

Tidak hanya Sultan Malikussaleh yang dimakamkan di sini. Di dalam kompleks yang sama, terdapat pula makam Sultan Muhammad Malik Az-Zahir, penerus tahta yang melanjutkan kejayaan Samudera Pasai setelah wafatnya sang pendiri. Bahkan, dari bagan silsilah yang terpampang di lokasi, terlihat jelas bahwa kerajaan ini memiliki garis keturunan panjang yang menunjukkan kesinambungan kekuasaan dan peradaban.

Lebih jauh, papan informasi tersebut juga menjelaskan bahwa Samudera Pasai memiliki hubungan erat dengan dunia Islam internasional, termasuk dalam sistem pemerintahan dan pengaruh kekhalifahan. Hal ini menunjukkan bahwa Pasai bukan hanya kerajaan lokal, tetapi bagian dari jaringan besar peradaban Islam dunia.

Duta Wisata Aceh Utara Muqsal mina saat berziarah ke Makam Sultan Malikussaleh di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara [Foto/HO Habanusantara/Muqsalmina]
Duta Wisata Aceh Utara Muqsal mina saat berziarah ke Makam Sultan Malikussaleh di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara [Foto/HO Habanusantara/Muqsalmina]

Meski suasananya tenang, kawasan ini tidak pernah benar-benar sepi. Seorang penjaga makam menyebutkan bahwa selalu ada saja pengunjung yang datang dengan berbagai tujuan.

“Setiap hari ada yang datang. Ada yang ziarah, ada dari sekolah, ada juga yang menunaikan hajat,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan bahwa makam Sultan Malikussaleh bukan hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga ruang spiritual yang hidup di tengah masyarakat.

Sebagai duta wisata, Muqsal Mina melihat situs ini sebagai warisan berharga yang tidak hanya penting bagi Aceh, tetapi juga bagi Indonesia secara keseluruhan.

“Makam Sultan Malikussaleh bukan hanya tempat bersejarah, tetapi juga titik awal perjalanan peradaban Islam di Nusantara. Ini adalah warisan yang harus kita jaga dan kenalkan kepada generasi muda,” ujarnya.

Di tengah keheningan yang menyelimuti kompleks makam, nilai sejarah dan spiritual terasa begitu kuat. Setiap langkah di antara nisan-nisan tua seolah membawa pengunjung kembali ke masa lalu—ke masa ketika Islam mulai berakar di tanah Pase, dan seorang raja memimpin dengan visi yang melampaui zamannya.

Makam Sultan Malikussaleh hari ini bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah pintu untuk memahami bagaimana sebuah peradaban dimulai—dari pesisir sederhana, menuju pengaruh besar yang membentang hingga ke seluruh Nusantara.

Di tanah Pasai, sejarah tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup, tersimpan rapi di antara batu-batu nisan, menunggu untuk terus dikenang dan diceritakan kembali.[***]