Habanusantara.net, Sabang bukan sekadar cerita tentang deburan ombak dan pesona bawah laut yang telah mendunia. Di balik tenangnya Pulau Weh, tepat di jantung Kota Sabang yang tak jauh dari ikon Simpang Garuda, berdiri sebuah bangunan yang menjadi penanda spiritual sekaligus pusat kehidupan masyarakat: Masjid Agung Babussalam Sabang. Bagi wisatawan yang datang mencari keseimbangan antara petualangan dan ketenangan, masjid ini menjadi ruang hening yang menghadirkan kedamaian di tengah dinamika kota pesisir.
Dari kejauhan, bangunan ini langsung mencuri perhatian. Dominasi warna putih bersih berpadu dengan detail ornamen bernuansa perak menciptakan kesan megah sekaligus sakral. Cahaya matahari yang jatuh di permukaan dindingnya sering kali memantulkan kilau lembut, seolah menegaskan bahwa tempat ini bukan sekadar bangunan, tetapi juga simbol keteduhan di ujung barat Indonesia.
Secara arsitektur, Masjid Agung Babussalam mengusung perpaduan gaya Timur Tengah dan sentuhan lokal yang halus. Kubah utama yang besar dengan ujung lancip menjadi pusat visual yang kuat, sementara dua menara di sisi kanan dan kiri berdiri tegak seperti penjaga kota. Gerbang utama dengan tiga pintu akses menyambut setiap tamu dengan nuansa keterbukaan, mencerminkan karakter masyarakat Sabang yang ramah terhadap siapa saja, termasuk wisatawan mancanegara.
Di siang hari, kawasan masjid menjadi titik singgah bagi para pelancong. Banyak wisatawan yang berhenti sejenak untuk beristirahat dari perjalanan mereka menjelajahi Pulau Weh. Halamannya yang luas dan bersih sering dijadikan tempat untuk sekadar duduk, melepas lelah, atau mengabadikan momen dengan latar arsitektur yang fotogenik.
Salah satu wisatawan asal Malaysia, Ahmad Faris (32), mengaku terkesan dengan suasana masjid ini. Ia menyebut bahwa Masjid Agung Babussalam memberikan pengalaman spiritual yang berbeda dari masjid-masjid yang pernah ia kunjungi di negara lain.
“Bangunannya sangat indah dan tenang. Saya tidak hanya merasa sedang berada di tempat ibadah, tetapi juga seperti berada di ruang yang menenangkan pikiran. Ini pengalaman yang sangat berkesan selama saya di Sabang,” ujarnya.
Sementara itu, wisatawan asal Prancis, Claire Dubois (28), menilai bahwa masjid ini menjadi salah satu titik paling menarik dalam perjalanannya di Indonesia. Menurutnya, kombinasi arsitektur Timur Tengah dengan suasana kota kecil pesisir memberikan pengalaman visual dan emosional yang kuat.
“I love how peaceful this place is. The architecture is stunning, but what impressed me most is the calm atmosphere. It feels like time slows down here,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat aktivitas sosial dan pendidikan masyarakat. Setiap sore, suasana halaman masjid dipenuhi oleh anak-anak yang mengikuti kegiatan mengaji. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar bersahutan, menciptakan atmosfer religius yang hangat dan hidup.
Di dalam kompleks masjid juga terdapat Balai Keurukoh, sebuah bangunan tradisional bertiang yang digunakan sebagai tempat musyawarah masyarakat. Kehadiran balai ini memperlihatkan bagaimana masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pengambilan keputusan sosial yang mengakar pada tradisi lokal.
Hal ini menunjukkan bahwa Masjid Agung Babussalam bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga bagian penting dari struktur sosial masyarakat Sabang. Di sinilah nilai agama, budaya, dan kebersamaan berpadu dalam satu ruang yang harmonis.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Humaira yang menilai masjid ini sebagai salah satu ikon penting dalam destinasi wisata kota.
“Masjid Agung Babussalam bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi yang sangat menarik. Banyak wisatawan yang datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk menikmati keindahan arsitektur dan ketenangan suasananya. Ini menjadi bagian penting dari pengalaman wisata di Sabang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberadaan masjid ini turut memperkuat citra Sabang sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kedalaman nilai spiritual dan budaya.

Saat waktu Magrib tiba, suasana masjid berubah menjadi lebih syahdu. Cahaya lampu-lampu gantung di dalam ruang utama memantulkan kilau lembut di antara tiang-tiang besar yang berdiri kokoh. Jamaah mulai berdatangan, tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk meredakan lelah setelah seharian menjelajahi pulau.
Di momen-momen seperti ini, Masjid Agung Babussalam benar-benar menunjukkan fungsinya sebagai oase di tengah kehidupan kota. Di luar, Sabang mungkin dipenuhi aktivitas wisata dan hiruk-pikuk perjalanan, tetapi di dalam masjid, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi setiap orang untuk kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
Bagi banyak wisatawan, pengalaman di Sabang tidak akan lengkap tanpa singgah di masjid ini. Ia bukan sekadar destinasi religi, tetapi juga titik temu antara perjalanan fisik dan perjalanan batin.
Ketika langkah kaki meninggalkan pelataran masjid, yang tersisa bukan hanya kenangan visual tentang arsitektur megahnya, tetapi juga rasa tenang yang sulit dijelaskan. Masjid Agung Babussalam Sabang seolah mengingatkan bahwa di tengah perjalanan panjang menjelajahi dunia, selalu ada ruang untuk berhenti, merenung, dan menemukan kedamaian.[***]

![Tampak Bagian Luas Masjid Agung Babussalam Kota Sabang [Foto/HO Habanusantara.net/Humaira]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-18-at-13.09.51.jpeg)



