Ngopi Sambil Menatap Laut Lepas, Ini Tempat Paling Healing di Pulau Weh

Redaksi
Duta Wisata Sabang Humaira sedang menikmati Kopi di Cup of Journey, Sabang [Foto/HO For Habanusantara/Humaira]
Duta Wisata Sabang Humaira sedang menikmati Kopi di Cup of Journey, Sabang [Foto/HO For Habanusantara/Humaira]
A-AA+A++

Habanusantara.net — Ada banyak cara untuk menikmati Pulau Weh, namun hanya sedikit tempat yang mampu menghadirkan ketenangan sekaligus keindahan dalam satu waktu. Di ujung barat Indonesia ini, di mana laut lepas bertemu cakrawala tanpa batas, sebuah kedai sederhana bernama Cup of Journey menjadi magnet baru bagi para wisatawan yang mencari pengalaman “healing” sesungguhnya.

Sabang memang selalu punya cara untuk memperlambat waktu. Deburan ombak yang konsisten, angin laut yang lembut, serta panorama alam yang masih alami membuat siapa pun yang datang seolah diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Namun di Cup of Journey, pengalaman itu terasa lebih personal—lebih dekat, lebih dalam.

Baca juga : Kuliner Legendaris di Ujung Barat: Mie Ayam Cilacap yang Selalu Diburu Saat Senja

Terletak di tepian tebing yang langsung menghadap ke laut lepas, kedai ini menawarkan pemandangan yang sulit dilupakan. Dari sudut pandang ini, pengunjung dapat menyaksikan hamparan biru toska Selat Malaka yang luas, berpadu dengan hijaunya Pulau Klah yang berdiri tenang di kejauhan. Kapal-kapal kargo sesekali melintas, sementara perahu nelayan bergerak perlahan, menciptakan lanskap yang hidup namun tetap damai.

Perjalanan menuju lokasi ini pun relatif mudah. Hanya sekitar 10 menit dari pusat Kota Sabang atau sekitar 4,6 kilometer, akses menuju kedai ini bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Letaknya yang berada di pinggir jalan membuatnya mudah dijangkau, namun tetap terasa eksklusif karena suasananya yang jauh dari keramaian.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah menjelang senja. Saat matahari perlahan turun ke ufuk barat, langit Sabang berubah menjadi kanvas raksasa dengan gradasi warna jingga, merah, hingga ungu yang memantul di permukaan laut. Momen ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus mengabadikannya.

Baca jug : Utoh Ishak dan Api Rencong, Menjaga Warisan Aceh yang Kian Redup

Namun, pengalaman di Cup of Journey tentu tidak lengkap tanpa mencicipi menu andalannya, Kopi Susu Journey. Diracik dengan komposisi yang seimbang antara kopi, susu, dan tingkat kemanisan yang bisa disesuaikan, minuman ini menghadirkan rasa yang kuat namun tetap lembut di tenggorokan. Setiap tegukan seolah menjadi bagian dari perjalanan—mengingatkan pada jalanan berkelok di Sabang, keramahan masyarakatnya, hingga momen tenang yang sedang dinikmati saat itu.

Bagi banyak pengunjung, tempat ini bukan sekadar kedai kopi. Ia telah menjadi ruang untuk berbagi cerita, merenung, bahkan menemukan kembali ketenangan diri. Tak heran jika Cup of Journey kini menjadi salah satu destinasi favorit, terutama bagi generasi muda yang mencari tempat dengan suasana estetik sekaligus bermakna.

Owner Cup of Journey mengungkapkan bahwa perjalanan membangun usaha ini tidaklah mudah. Kedai ini berdiri sejak tahun 2022 melalui kerja sama bersama teman-teman, berangkat dari keterbatasan namun dengan mimpi yang besar.

“Perjalanan kami tidak selalu mulus. Tahun 2024 kami sempat mengalami masa sulit selama lima bulan. Tapi di tahun 2025, kami kembali bangkit dengan tim yang lebih solid, meski sekarang hanya saya sebagai founder. Kami percaya, perjalanan ini panjang, dan mimpi kami juga tinggi,” ujarnya.

Baca juga : Pesona Masjid HM Hanafiah, Destinasi Religi Aceh Utara yang Viral dan Curi Perhatian Musafir

Ia menambahkan, filosofi yang dipegang dalam membangun usaha ini adalah tentang perjalanan itu sendiri. Bahwa keberhasilan tidak selalu tentang seberapa cepat mencapai tujuan, tetapi bagaimana proses itu dijalani bersama.

“Seperti pepatah, kalau ingin cepat, berjalanlah sendiri. Tapi kalau ingin jauh, berjalanlah bersama-sama. Itu yang kami pegang sampai sekarang,” tambahnya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Humaira yang melihat Cup of Journey sebagai lebih dari sekadar tempat menikmati kopi.

“Menikmati seteguk kopi di sini bukan hanya soal minuman khas Sabang, tapi tentang menikmati hidup. Kita diajak berhenti sejenak, tidak terburu-buru, sambil memandangi pemandangan luar biasa seperti Pulau Klah dan laut lepas,” ujarnya.

Menurutnya, tempat-tempat seperti ini memiliki nilai lebih dalam mendukung pariwisata Sabang. Bukan hanya menjual pemandangan, tetapi juga pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

Bagi wisatawan mancanegara, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berkesan. Banyak dari mereka yang datang bukan hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga untuk merasakan suasana yang autentik—perpaduan antara alam, budaya, dan ketenangan yang jarang ditemukan di destinasi lain.

Di Cup of Journey, waktu seolah berjalan lebih lambat. Percakapan terasa lebih hangat, buku menjadi lebih menarik untuk dibaca, dan kesendirian berubah menjadi momen refleksi yang bermakna. Saat matahari akhirnya tenggelam dan langit mulai gelap, pengunjung biasanya enggan beranjak.

Pulau Weh, melalui tempat sederhana ini, seakan mengingatkan bahwa perjalanan bukan hanya tentang destinasi, tetapi juga tentang bagaimana kita menikmati setiap momen di dalamnya.

Jadi, jika Anda mencari tempat untuk benar-benar “healing”—bukan sekadar berlibur—Cup of Journey di Sabang adalah jawabannya. Duduklah, pesan secangkir kopi, dan biarkan laut lepas menceritakan kisahnya kepada Anda.[***]