Dari Pulau hingga Pesisir, Digitalisasi Ubah Cara UMKM Aceh Menjangkau Pasar

Redaksi
Usaha rumahan ikan kayu masak di kawasan Lampulo, Banda Aceh, memanfaatkan Instagram dan WhatsApp untuk memasarkan eungkot keumamah, salah satu olahan ikan khas Aceh. Melalui kedua platform tersebut, produknya menjangkau konsumen di Banda Aceh, Sabang, Lhokseumawe, Medan, hingga Jakarta. Pemanfaatan media digital membantu pelaku usaha memperluas pemasaran produk olahan hasil laut ke luar daerah. [Foto/HabaNusantar.net/Ismail]
Usaha rumahan ikan kayu masak di kawasan Lampulo, Banda Aceh, memanfaatkan Instagram dan WhatsApp untuk memasarkan eungkot keumamah, salah satu olahan ikan khas Aceh. Melalui kedua platform tersebut, produknya menjangkau konsumen di Banda Aceh, Sabang, Lhokseumawe, Medan, hingga Jakarta. Pemanfaatan media digital membantu pelaku usaha memperluas pemasaran produk olahan hasil laut ke luar daerah. [Foto/HabaNusantar.net/Ismail]
A-AA+A++

Habanusantara.net, Banda Aceh – Kondisi geografis Kabupaten Simeulue yang berada di Samudra Hindia, terpisah dari daratan utama Aceh, menjadi tantangan tersendiri bagi konektivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mulai memanfaatkan media digital untuk memasarkan produk mereka.

Salah satunya Ani Marliana, pemilik usaha kue dan keripik Rafi di Simeulue, menggunakan Facebook dan WhatsApp untuk menawarkan produknya kepada pelanggan. Pesanan datang dari masyarakat setempat maupun konsumen yang membawa produknya ke sejumlah daerah, termasuk Jakarta.

Salah satu produk yang dipasarkan adalah keripik berbahan dasar sagu dari batang sagu. Olahan pangan tradisional tersebut menjadi salah satu produk yang kerap dijadikan buah tangan oleh masyarakat yang bepergian dari Simeulue, bahkan dibawa saat melakukan perjalanan umrah.

Pemanfaatan media digital menjadi salah satu cara bagi usaha rumahan untuk menjangkau konsumen tanpa harus membuka tempat usaha di daerah lain. Komunikasi melalui aplikasi pesan instan juga memungkinkan proses pemesanan dilakukan secara langsung antarpenjual dan pembeli.

Namun, upaya digitalisasi usaha di Simeulue masih menghadapi kendala berupa jaringan internet yang tidak selalu stabil. Ani mengatakan, kondisi cuaca terkadang memengaruhi kualitas jaringan sehingga komunikasi dengan pelanggan dapat terganggu.  “Tapi ketika cuaca kembali normal, aktivitas berdagang kembali lancar lagi seperti biasa,” kata Ani kepada Haba Nusantara, Senin (19/10/2026).

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan teknologi digital oleh UMKM tidak hanya bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam menggunakan platform daring, tetapi juga pada ketersediaan infrastruktur telekomunikasi yang memadai. Dengan dukungan akses internet yang lebih baik dan peningkatan keterampilan digital pelaku usaha di wilayah kepulauan berpeluang memperluas pasar sekaligus mempertahankan produk pangan tradisional.

Pengalaman usaha Ani Marliana menunjukkan bagaimana media digital mulai dimanfaatkan pelaku UMKM di Simeulue untuk mendukung kegiatan ekonomi. Meski demikian, perluasan akses internet dan penguatan literasi digital masih menjadi tantangan agar manfaat teknologi dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha di daerah tersebut.

Sementara itu, Fauziah, pemilik usaha rumahan di kawasan Lampulo, Banda Aceh, memanfaatkan Instagram dan WhatsApp untuk memasarkan ikan kayu masak atau eungkot keumamah, salah satu olahan ikan yang dikenal dalam kuliner Aceh. Melalui kedua platform tersebut, produknya menjangkau konsumen di Banda Aceh, Sabang, Lhokseumawe, Medan hingga Jakarta.

Sebagai kawasan pesisir dengan aktivitas perikanan yang kuat, Lampulo memiliki potensi pengembangan usaha berbasis hasil laut. Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu cara bagi pelaku UMKM setempat untuk memperluas jangkauan pemasaran produk hingga ke luar daerah.

Dalam sehari, usaha Fauziah mampu memproduksi sekitar 300 pcs produk, tergantung pada permintaan. Produk tersebut dijual dengan harga berkisar Rp25.000 hingga Rp35.000 per pcs.

Penggunaan teknologi digital juga membantu Fauziah menerima pesanan dalam jumlah besar. Saat banjir melanda sejumlah wilayah Aceh, ia menerima pesanan dari berbagai organisasi. Jumlah pesanan dalam beberapa transaksi berkisar antara 100 hingga 500 pcs produk.

“Pada saat banjir melanda sejumlah wilayah Aceh, banyak organisasi yang memesan ikan kayu masak untuk kegiatan bantuan,” kata Fauziah, Senin (19/10/2026).

Pemanfaatan teknologi digital oleh pelaku UMKM seperti Fauziah menjadi salah satu gambaran bagaimana usaha lokal dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperluas jaringan pemasaran dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.

Meski pemasaran digital menawarkan kemudahan, pengembangan usaha tetap membutuhkan pengelolaan produksi, kualitas produk, dan pelayanan yang baik agar mampu memenuhi permintaan konsumen. Inovasi dalam pemasaran dan upaya mempertahankan produk pangan tradisional diharapkan dapat membantu memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner lokal ke tingkat nasional.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Kota Banda Aceh, Ir. Muhammad Zubir, S.Si.T., M.Si., mengatakan pemanfaatan teknologi digital perlu diarahkan untuk memperluas akses pasar, meningkatkan produktivitas, serta membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat.

Menurut dia, strategi transformasi digital pemerintah kota mencakup penguatan pemerintahan digital, digitalisasi UMKM dan ekonomi kreatif, serta pengembangan ekosistem inovasi dan kewirausahaan digital.

Salah satu inisiatif yang dikembangkan adalah aplikasi Usaha Teman Kota Banda Aceh yang mempertemukan masyarakat dengan penyediaan jasa harian dan pelaku usaha lokal.

Pengembangan platform tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha memperkenalkan produk dan layanan kepada konsumen yang lebih luas. “Meski demikian, sosialisasi kepada UMKM, pendampingan penggunaan aplikasi, dan peningkatan kualitas profil usaha masih menjadi bagian penting yang perlu diperkuat,” kata Zubir, Senin (19/10/2026).

Zubir menilai, keberadaan platform digital belum otomatis meningkatkan pendapatan pelaku usaha. Karena itu, pemanfaatannya perlu dievaluasi berdasarkan tingkat penggunaan, jumlah mitra aktif, transaksi, serta manfaat yang diperoleh UMKM.

Namun, lanjutnya, potensi itu perlu dihubungkan dengan kebutuhan industri, peluang usaha, dan persoalan nyata di masyarakat agar inovasi yang dihasilkan dapat berkembang secara berkelanjutan.

Digitalisasi Dinilai Penting untuk Pemulihan UMKM

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM) Aceh, Reza Ferdian, S.STP., M.Si., mengatakan digitalisasi menjadi salah satu langkah yang perlu diadaptasi pelaku UMKM agar produk lokal mampu bersaing dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Menurut Reza, pemasaran digital semakin relevan bagi pelaku usaha yang terdampak bencana dan membutuhkan dukungan untuk memulihkan kegiatan ekonominya.

“Kita harus beradaptasi agar produk yang kita hasilkan tetap eksis dan mampu menjangkau pasar. Apalagi bagi UMKM, khususnya di Aceh yang terdampak bencana, pemasaran digital dapat menjadi salah satu jalan untuk mempercepat kebangkitan usaha pascabencana,” kata Reza.

Ia menekankan bahwa kemampuan memproduksi barang harus diimbangi dengan pemahaman terhadap kebutuhan pasar. Pelaku usaha perlu memastikan produknya memiliki nilai jual, menghasilkan keuntungan, dan diminati konsumen.

“Terpenting, bagaimana kita bisa menyesuaikan produk yang kita hasilkan agar memiliki nilai jual, menghasilkan keuntungan, dan benar-benar laku di pasaran. Jangan hanya mampu memproduksi, tapi juga harus memastikan produk tersebut memiliki pasar. Karena itu, digitalisasi diperlukan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas,” ujarnya.[Ismail]