Aceh Punya Pengalaman Perdamaian
Mujiburrahman menilai pesan perdamaian tersebut memiliki relevansi khusus bagi Aceh. Menurutnya, Aceh memiliki pengalaman dalam membangun perdamaian yang perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Aceh punya pengalaman dalam membangun perdamaian. Pengalaman itu harus terus kita rawat. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengetahui perdamaian sebagai sebuah cerita, tetapi tidak memahami bagaimana perdamaian itu dibangun dan dijaga,” ujarnya.
Ia menyebut pengalaman tersebut dapat menjadi modal sosial untuk memperkuat peran masjid sebagai tempat pembinaan umat sekaligus membangun kehidupan masyarakat yang damai.
Mujiburrahman yang juga Ketua ICMI Aceh mengatakan perguruan tinggi Islam dapat ikut memperkuat peran tersebut melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, kampus memiliki pengetahuan dan tradisi akademik, sedangkan masjid memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat. Keduanya dapat bersinergi dalam menjawab berbagai persoalan umat.
“Masjid dan perguruan tinggi juga harus berjalan bersama. Kampus memiliki pengetahuan dan tradisi akademik, sementara masjid sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Kalau keduanya dapat bersinergi, banyak persoalan umat yang bisa kita jawab dengan lebih baik,” katanya.
Ia menegaskan nilai-nilai keagamaan tidak cukup berhenti sebagai wacana, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai agama itu benar-benar terasa dalam kehidupan. Agama harus melahirkan kedamaian, menjaga martabat manusia, dan membuat kita mampu hidup bersama dalam perbedaan,” ujarnya.
Dalam Jakarta Understanding, para imam besar juga menegaskan dukungan terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, perlindungan warga sipil, penegakan hukum internasional, serta terwujudnya kemerdekaan, keadilan, perdamaian dan martabat yang berkelanjutan bagi Palestina.[*]





