Habanusantara.net — Dugaan kekerasan terhadap taruna di Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh Besar kembali mencuat setelah Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Nazaruddin alias Tgk Agam, mengungkap pengakuan anaknya yang pernah dipukul senior.
Pengakuan tersebut disampaikan Tgk Agam di tengah penyelidikan kasus meninggalnya mahasiswa baru Poltekpel Malahayati, Muhammad Rasya Fadilah (19), asal Lhokseumawe.
Ia meminta aparat tidak hanya mengusut penyebab medis kematian Rasya, tetapi juga menelusuri seluruh rangkaian kejadian yang dialami korban selama mengikuti pendidikan.
Menurut Tgk Agam, anaknya yang juga pernah menjalani pendidikan di Poltekpel Malahayati mengaku mendapat kekerasan dari seorang senior berinisial A.
Persoalan itu, kata dia, sebelumnya sudah disampaikan kepada pihak Poltekpel Malahayati. Namun, berdasarkan cerita yang diterimanya dari sang anak, tindakan kekerasan tersebut disebut kembali terjadi.
“Sebelum kejadian yang menimpa Muhammad Rasya Fadilah, anak saya juga pernah dipukul oleh seniornya. Anak saya mengatakan, ‘Ayah, saya dipukul, saya tidak sanggup lagi,’” kata Tgk Agam, Senin (28/9/2026).
Ia menyebut anaknya mengaku dipukul sekitar 16 kali. Pukulan tersebut, menurut cerita yang diterimanya, mengenai bagian rusuk dan sejumlah bagian tubuh lainnya.
Keterangan mengenai dugaan pemukulan itu masih merupakan pengakuan anak yang disampaikan kepada Tgk Agam. Karena itu, fakta mengenai kejadian tersebut masih memerlukan pendalaman dan verifikasi dari pihak terkait.
Tgk Agam meminta polisi mengusut informasi tersebut bersama kasus kematian Rasya. Menurut dia, penyelidikan perlu melihat kondisi korban dan rangkaian kejadian sebelum mendapat perawatan hingga meninggal dunia.
“Kami meminta pihak berwajib agar kasus yang menimpa Muhammad Rasya Fadilah dan anak saya diusut tuntas serta diproses sesuai hukum. Anak kami diantar ke sana untuk dididik, bukan untuk dipukul,” ujarnya.
Rasya merupakan mahasiswa baru Poltekpel Malahayati yang meninggal dunia dan kasusnya kini ditangani kepolisian. Pihak keluarga sebelumnya telah meminta pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebab kematian korban dan melaporkan persoalan tersebut kepada Polresta Banda Aceh.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti kematian Rasya masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan proses penyelidikan kepolisian. Keterangan resmi dari pihak Poltekpel Malahayati mengenai dugaan kekerasan maupun rangkaian kematian Rasya juga masih diperlukan untuk memperjelas perkara tersebut.
Tgk Agam berharap penyelidikan dilakukan secara menyeluruh agar fakta mengenai apa yang terjadi di lingkungan pendidikan Poltekpel Malahayati dapat terungkap.
Ia juga meminta kejadian serupa tidak kembali dialami mahasiswa lainnya.[*]





