Siswa Kritik Menu MBG lewat Selembar Kertas, Apa chef-nya cuma bisa olah telur doang?

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net — Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, mendapat sorotan dari sejumlah siswa. Kritik tersebut disampaikan secara terbuka melalui selembar kertas yang meminta variasi menu makanan ditingkatkan.

Dalam surat tersebut, siswa mempertanyakan menu telur yang dinilai terlalu sering disajikan. Salah satu tulisan yang disampaikan berbunyi:

“Kenapa telur selalu? Apa chef-nya cuma bisa olah telur doang? Di dapur MBG orang enak-enak lho.”

Sejumlah siswa juga menilai menu yang mereka terima kurang bervariasi. Mereka menyebut makanan yang disajikan dalam salah satu paket terdiri dari telur goreng, tahu goreng, sayur dan satu buah salak.

“Kami merasa menu yang diberikan kurang menarik, tidak sesuai selera, atau terasa membosankan. Akibatnya, makanan yang seharusnya dimanfaatkan justru terbuang,” ujar sejumlah siswa di lingkungan sekolah.

Kondisi tersebut disebut berdampak pada jumlah makanan yang tidak dikonsumsi. Dari sekitar 940 kotak makanan yang disiapkan, 240 kotak disebut masih tersisa.

Tingginya makanan yang tersisa menjadi perhatian karena program MBG ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa. Evaluasi terhadap variasi menu dan tingkat penerimaan siswa menjadi penting agar makanan yang disediakan dapat dikonsumsi secara optimal.

Menanggapi kritik tersebut, Ketua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanjung Minje, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Mulyatun Hanum, mengatakan pihaknya telah mengetahui masukan yang disampaikan siswa.

Menurut Mulyatun, menu yang disiapkan SPPG mengacu pada data dan perencanaan menu yang telah ditetapkan. Ia membantah anggapan bahwa menu yang disediakan hanya berupa telur tanpa variasi lainnya.

“Kemungkinan secara kebetulan ketika Abang datang ke sekolah, menu yang terlihat seperti itu. Persiapan menu tentunya kami merubah resep. Bahkan sebelumnya SPPG kami juga menyiapkan daging rendang, kebetulan ketika Abang datang makanan yang disajikan adalah telur bulat,” ujar Mulyatun kepada media ini, Jumat (4/9/2026).

Ia menjelaskan, masukan yang dituangkan siswa dalam surat tersebut sebenarnya telah diketahui sebelumnya. Surat tersebut, kata dia, telah disampaikan pihak dewan guru kepada SPPG.

Menurut Mulyatun, masukan tersebut telah menjadi bahan evaluasi dan SPPG juga melibatkan tim ahli gizi untuk melakukan perbaikan terhadap menu.

“Isi surat tersebut sudah diketahui sebelumnya dan dikirim oleh dewan guru ke SPPG. Dalam hal ini SPPG sudah ditangani tim ahli gizi untuk perbaikan. Kritik dari luar siap kami tampung agar bisa ditindaklanjuti dengan perubahan,” katanya.

Mulyatun menegaskan pihak SPPG terbuka terhadap kritik dan saran, terutama yang berkaitan dengan menu makanan.

Evaluasi diharapkan dapat meningkatkan variasi menu sekaligus mengurangi makanan yang tidak dikonsumsi siswa.[Mnw]