Habanusantara.net — Polda Aceh membangun 265 titik sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh. Langkah tersebut menjadi bagian dari akselerasi pemulihan yang dilakukan Polri, tidak hanya saat tanggap darurat tetapi hingga fase pascabencana.
Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan mengungkapkan hal itu dalam Forum Ngopi Kebangsaan bersama Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Aceh di D’Kupi Aceh Batoh, Banda Aceh, Sabtu (12/9/2026).
Ruddi mengatakan penanganan bencana oleh Polri berlanjut setelah fase tanggap darurat berakhir. Upaya tersebut diarahkan untuk mempercepat pemulihan masyarakat, memulihkan stabilitas struktural, sekaligus memperkuat ketahanan nasional.
Dalam fase pascabencana, langkah Polri dimulai dengan asesmen dan pemetaan kerusakan, kebutuhan masyarakat serta potensi risiko. Tahap berikutnya mencakup bantuan kemanusiaan, layanan kesehatan, dukungan psikososial dan trauma healing, termasuk perlindungan terhadap kelompok rentan.
Pemulihan juga dilakukan melalui pembangunan rumah atau hunian tetap (huntap), perbaikan fasilitas publik, pembangunan infrastruktur dasar dan pemulihan sarana vital.
“Berbagai upaya telah kita lakukan dalam penanganan bencana, termasuk restorasi infrastruktur fisik melalui pembangunan rumah atau huntap, perbaikan fasilitas publik, pembangunan infrastruktur dasar, serta pemulihan sarana vital,” kata Ruddi.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, sebanyak 265 titik sumur bor telah dibangun. Rinciannya, 10 titik melalui program Kapolri, 46 titik melalui program Kapolda Aceh dan 209 titik melalui program Aslog Kapolri.
Menurut Ruddi, intervensi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemulihan kebutuhan dasar, tetapi juga berdampak pada ketahanan masyarakat. Dari aspek keamanan, pemulihan dapat memperkuat human security dan kepercayaan publik. Sementara dari sisi sosial, dukungan psikososial dan penyediaan huntap diharapkan membantu memulihkan kohesi masyarakat.
Dari aspek ekonomi, percepatan pemulihan infrastruktur dinilai penting untuk mencegah aktivitas ekonomi lokal mengalami kelumpuhan berkepanjangan.
Forum tersebut mengangkat tema “Akselerasi Rekonstruksi Aceh Pascabencana Hidrometeorologi Guna Memperkokoh Ketahanan Nasional.”
Ketua DPD IKAL Aceh Prof Dr Syahrizal Abbas mengatakan kegiatan Ngopi Kebangsaan menjadi ruang bagi alumni Lemhannas untuk bertukar gagasan mengenai persoalan strategis sekaligus memberikan kontribusi terhadap pembangunan bangsa.
Ia menyebut alumni Lemhannas yang pernah mengikuti program PPRA maupun PPSA dan kemudian berkiprah di berbagai bidang di Aceh berjumlah lebih dari 200 orang. Saat ini, belasan di antaranya relatif aktif dalam kegiatan IKAL Aceh.[*]





