التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertaubat dari suatu dosa, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.”
“Jangan pernah merasa bahwa dosa dan masa lalu membuat kita tidak mungkin berubah. Selama kita mau kembali kepada Allah, pintu taubat selalu terbuka,” ujar Abu Sulaiman di hadapan para warga binaan.
Menurutnya, taubat nasuha bukan sekadar ucapan, melainkan harus dibuktikan dengan perubahan sikap dan perilaku. Karena itu, ia menjelaskan tiga syarat utama taubat yang harus dijalankan.
Pertama, menyesali dosa yang pernah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kedua, meninggalkan seluruh bentuk kemaksiatan. Ketiga, memiliki tekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Taubat harus dibuktikan dengan perubahan. Kalau kemarin kita salah, hari ini kita berusaha menjadi lebih baik. Kalau pernah jatuh, jangan takut untuk bangkit,” katanya.
Abu Sulaiman menilai tema “Mengangkat Mutiara yang Terjatuh” menggambarkan bahwa setiap manusia tetap memiliki nilai meski pernah melakukan kesalahan. Seperti mutiara yang jatuh ke dasar lumpur, nilainya tidak pernah hilang, hanya perlu diangkat kembali agar kembali bersinar.
Karena itu, ia mengajak para warga binaan menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi, memperbaiki akhlak, memperkuat ibadah, dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat dengan kehidupan yang lebih baik.
Pengajian berlangsung dalam suasana khidmat dan diikuti warga binaan dengan penuh perhatian. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan proses pembinaan di Lapas tidak hanya membentuk kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga memperkuat pembinaan mental dan spiritual sebagai bekal menjalani kehidupan setelah bebas.





