Habanusantara.net – Pemerintah Kota Banda Aceh mulai menata kembali kawasan bersejarah Taman Telepon yang berada di pusat kota. Revitalisasi kawasan tersebut diarahkan tidak hanya untuk mempercantik ruang publik, tetapi juga menjaga jejak infrastruktur telekomunikasi yang menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Kota Banda Aceh.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengunjungi langsung untuk melihat proses penataan kawasan. Ia mengatakan Taman Telepon memiliki nilai sejarah panjang karena menjadi salah satu titik awal perkembangan jaringan telekomunikasi di Indonesia sejak tahun 1903.
Menurutnya, keberadaan bangunan telepon lama tersebut merupakan bagian dari rekam jejak infrastruktur komunikasi masa lalu yang harus dipertahankan di tengah perkembangan kota modern.
“Ini bagian dari sejarah yang cukup panjang, lebih dari 100 tahun. Kita revitalisasi kembali sesuai dengan peninggalan masa lalu, tidak mengubah bentuk sejarahnya, tetapi kita perindah dengan taman yang lebih baik agar bisa dinikmati masyarakat,” ujar Illiza, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan, pada masa lalu kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam jaringan komunikasi. Bahkan, hubungan telepon dari Batavia menuju Singapura disebut melalui titik koneksi yang berada di kawasan tersebut.
Karena itu, Pemko Banda Aceh ingin menjadikan Taman Telepon sebagai bagian dari kawasan sejarah kota yang terintegrasi dengan sejumlah situs penting lainnya, seperti Masjid Raya Baiturrahman, Taman Bustanussalatin, Taman Putroe Phang, hingga kawasan Pendopo Gubernur Aceh.
“Ini satu kawasan yang memiliki rekam jejak sejarah. Kita ingin peninggalan masa lalu ini tetap terjaga, sehingga anak cucu kita nanti masih bisa melihat bagaimana perkembangan kota ini dari waktu ke waktu,” katanya.
Illiza menilai pembangunan kota tidak hanya berbicara tentang infrastruktur modern, tetapi juga bagaimana menjaga identitas dan karakter sebuah daerah. Menurutnya, konsep kota tua (old town) dapat berjalan berdampingan dengan pembangunan ekonomi dan ruang publik.
“Modernitas harus tetap berjalan, tetapi ruh sejarah kota jangan sampai hilang. Nilai sejarah dan nilai ekonomi harus bisa berjalan bersama,” ujarnya.

Dalam proses revitalisasi tersebut, Pemko Banda Aceh juga menggandeng PT Telkom Indonesia untuk mendukung pemeliharaan bangunan telekomunikasi bersejarah tersebut setelah taman selesai dibangun.
Illiza menyebut Telkom memberikan respons positif karena kawasan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah perkembangan telekomunikasi.
“Alhamdulillah komunikasi dengan Telkom berjalan baik. Setelah taman selesai, Telkom bersedia membantu maintenance dan menjaga bangunan tersebut karena ini juga bagian dari sejarah telekomunikasi,” katanya.[***]





