Habanusantara.net – Perumdam Tirta Daroy Banda Aceh membangun satu unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 100 liter per detik di Water Treatment Plant (WTP) Lubok Batee, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Proyek yang ditargetkan rampung pada Agustus 2026 itu dilakukan untuk menambah kapasitas produksi air bersih seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dan pertumbuhan kawasan permukiman baru di Kota Banda Aceh.
Direktur Utama Perumdam Tirta Daroy Banda Aceh, T. Novizal Aiyub, mengatakan pembangunan IPA baru menjadi langkah strategis untuk menjaga kualitas pelayanan sekaligus membuka ruang bagi penambahan pelanggan baru. Saat ini kapasitas produksi perusahaan mencapai sekitar 800 liter per detik, namun hampir seluruhnya telah dimanfaatkan untuk melayani pelanggan yang ada.
“Saat ini kami sedang membangun satu unit IPA baru berkapasitas 100 liter per detik di WTP Lubok Batee. Insya Allah selesai pada Agustus tahun ini. Setelah beroperasi, kapasitas produksi akan bertambah sehingga pelayanan kepada masyarakat bisa lebih baik dan peluang penambahan pelanggan juga terbuka,” kata Novizal, Kamis (11/6/2026).
Menurut Novizal, kapasitas produksi yang tersedia saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Banda Aceh. Namun, ruang untuk menambah pelanggan baru semakin terbatas karena kapasitas yang ada sudah mendekati batas pemanfaatan maksimal, sementara pertumbuhan penduduk dan pembangunan perumahan terus meningkat setiap tahun.
Saat ini layanan Perumdam Tirta Daroy telah menjangkau sekitar 86 persen masyarakat Kota Banda Aceh dengan jumlah pelanggan lebih dari 56 ribu sambungan rumah. Untuk mendukung perluasan layanan di kawasan permukiman yang terus berkembang, perusahaan menilai penambahan kapasitas produksi menjadi kebutuhan yang mendesak.
Selain membangun IPA baru, Perumdam Tirta Daroy juga menjalankan program pembenahan infrastruktur melalui penggantian water meter yang sudah tua dan peremajaan jaringan pipa lama. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan akurasi pencatatan konsumsi air, mengurangi kebocoran jaringan, menekan tingkat kehilangan air (non-revenue water/NRW), serta memastikan peningkatan kapasitas produksi dapat diimbangi dengan sistem distribusi yang lebih andal bagi masyarakat.[***]





