Habanusantara.net– Mantan Gubernur Aceh periode 2012-2017, Zaini Abdullah atau yang lebih dikenal dengan sapaan Abu Doto, meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainoel Abidin, Banda Aceh, Sabtu (13/6/2026) siang. Ia wafat pada usia 86 tahun setelah menjalani perjalanan hidup yang tidak hanya mewarnai sejarah Aceh, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan perdamaian Indonesia.
Bagi masyarakat Aceh, Zaini Abdullah bukan sekadar mantan gubernur. Ia adalah salah satu tokoh sentral yang mengalami langsung berbagai fase penting sejarah Aceh, mulai dari masa konflik bersenjata, kehidupan dalam pengasingan, proses diplomasi internasional, hingga lahirnya perdamaian yang mengubah wajah Aceh.
Lahir di Beureunuen, Kabupaten Pidie, pada 24 April 1940, Zaini menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU). Profesi dokter menjadi awal pengabdiannya kepada masyarakat sebelum kemudian memilih jalan perjuangan politik yang membawanya ke panggung sejarah Aceh.
Namanya mulai dikenal luas setelah bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dideklarasikan oleh Hasan di Tiro pada 4 Desember 1976. Zaini termasuk generasi awal GAM yang ikut membangun fondasi gerakan tersebut. Pada masa konflik, ia menjadi salah satu tokoh yang paling dicari aparat keamanan Indonesia dan namanya masuk dalam daftar pencarian orang yang disebarluaskan ke berbagai daerah.
Baca juga : Breaking News : Abu Doto, Mantan Gubernur Aceh Meninggal Dunia
Namun, peran terbesar Zaini bukan berada di medan tempur. Kemampuan komunikasi, latar belakang pendidikan, serta jaringan internasional yang dimilikinya membuat ia dipercaya mengemban tugas diplomasi. Dalam struktur GAM, Zaini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sekaligus Menteri Kesehatan. Dari pengasingannya di Swedia bersama Hasan di Tiro dan petinggi GAM lainnya, ia aktif membangun komunikasi dengan berbagai pihak internasional untuk menyuarakan persoalan Aceh.
Selama puluhan tahun hidup jauh dari tanah kelahirannya, Zaini menjadi salah satu wajah GAM di dunia internasional. Ia terlibat dalam berbagai upaya diplomasi yang akhirnya membuka ruang dialog antara GAM dan Pemerintah Indonesia. Peran tersebut kemudian bermuara pada proses perdamaian yang menjadi titik balik sejarah Aceh.
Ketika Nota Kesepahaman Helsinki ditandatangani pada 15 Agustus 2005, Zaini termasuk tokoh yang menyaksikan berakhirnya konflik bersenjata yang berlangsung hampir tiga dekade. Kesepakatan itu tidak hanya mengakhiri perang, tetapi juga membuka jalan bagi para tokoh GAM untuk kembali ke Aceh dan berpartisipasi dalam pembangunan melalui jalur politik yang sah.
Setelah kembali ke Aceh, Zaini menunjukkan transformasi yang jarang terjadi dalam sejarah konflik di berbagai belahan dunia. Dari seorang tokoh gerakan perlawanan, ia beralih menjadi pemimpin pemerintahan yang dipilih secara demokratis. Pada Pemilihan Gubernur Aceh 2012, ia berpasangan dengan mantan Panglima GAM, Muzakir Manaf, dan berhasil memenangkan kontestasi politik dengan dukungan mayoritas rakyat Aceh.
Pelantikannya sebagai Gubernur Aceh pada 25 Juni 2012 menjadi simbol kuat keberhasilan proses perdamaian. Sosok yang pernah hidup dalam pengasingan dan berada di luar sistem pemerintahan Indonesia kini memimpin Aceh melalui mekanisme demokrasi yang lahir dari hasil perdamaian Helsinki.
Selama memimpin Aceh hingga 2017, Zaini dikenal sebagai figur yang konsisten mendorong implementasi butir-butir MoU Helsinki, memperjuangkan kekhususan Aceh, serta mengawal proses pembangunan pascakonflik. Berbagai dinamika politik mewarnai masa kepemimpinannya, namun posisinya sebagai salah satu simbol perdamaian Aceh tidak pernah lepas dari ingatan publik.
Kepergian Abu Doto bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga bagi masyarakat Aceh yang menyaksikan langsung perjalanan panjang hidupnya. Dari seorang dokter, pejuang, diplomat, tokoh perdamaian, hingga gubernur, Zaini Abdullah meninggalkan warisan sejarah tentang perjuangan, rekonsiliasi, dan transformasi politik yang akan terus dikenang sebagai bagian penting perjalanan Aceh modern.[Is]





