Cyber-Scam Tak Hanya Rugikan Finansial, Korban Bisa Trauma Psikologis

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net – Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR) Perwakilan Aceh bekerja sama dengan HIMPSI Aceh dan Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar seminar bertajuk “Serangan Psikologis di Era Digital: Memahami Scam dan Manipulasi Siber” di Aula Gedung D Fakultas Kedokteran USK, Banda Aceh, Sabtu (13/6/2026). Kegiatan ini menyoroti meningkatnya ancaman penipuan digital atau cyber-scam yang tidak hanya menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis korban.

Ketua APSIFOR Aceh, Dr. Haiyun Nisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengatakan perkembangan teknologi digital telah membawa berbagai kemudahan bagi masyarakat. Namun, di sisi lain, kemajuan tersebut juga membuka peluang munculnya kejahatan siber yang semakin kompleks dan sulit dikenali.

Menurutnya, ancaman digital saat ini tidak lagi hanya menyasar sistem teknologi, tetapi juga mengeksploitasi aspek psikologis manusia. Karena itu, masyarakat perlu memahami pola-pola manipulasi yang digunakan pelaku agar tidak mudah menjadi korban.

Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber yang membahas fenomena scam dari sudut pandang keamanan informasi dan psikologi forensik.

Pada sesi pertama, Teuku Farhan, S.Kom., GCP-CDL, ACA, Direktur Eksekutif MIT Foundation, menjelaskan bahwa scam modern telah berkembang menjadi bentuk rekayasa serangan yang memadukan teknologi, pemanfaatan data pribadi, dan manipulasi psikologis.

Menurut Farhan, pelaku kini lebih banyak menargetkan manusia dibandingkan sistem teknologi melalui metode social engineering. Mereka memanfaatkan emosi seperti rasa takut, kepercayaan, harapan, hingga keserakahan untuk memengaruhi keputusan korban.

Ia juga mengingatkan bahwa data pribadi yang tersebar di media sosial, kebocoran data, maupun berbagai platform digital kerap digunakan pelaku untuk menyusun skenario penipuan yang tampak meyakinkan. Karena itu, masyarakat diminta menerapkan prinsip Think Before Click, melakukan verifikasi informasi, menggunakan autentikasi berlapis, dan rutin memperbarui sistem keamanan perangkat.

Sementara itu, Wida Yulia Viridanda, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa cyber-scam pada dasarnya merupakan bentuk serangan psikologis yang dirancang untuk memanipulasi proses berpikir dan pengambilan keputusan korban.

Ia menyebut pelaku kerap memanfaatkan berbagai bias psikologis seperti authority bias, fear appeal, reward illusion, dan scarcity effect untuk menciptakan tekanan emosional sehingga korban bertindak tanpa berpikir kritis.

“Scam tidak mencari orang yang bodoh. Scam mencari orang yang sedang percaya, sedang berharap, sedang takut, atau sedang membutuhkan,” ujar Wida.

Menurutnya, siapa pun berpotensi menjadi korban, termasuk individu dengan tingkat pendidikan tinggi maupun kalangan profesional. Karena itu, kewaspadaan dan kemampuan memverifikasi informasi menjadi faktor penting dalam mencegah kejahatan digital.

Wida juga mengungkapkan bahwa dampak cyber-scam sering kali melampaui kerugian finansial. Banyak korban mengalami trauma psikologis, rasa malu, kecemasan, depresi, kehilangan kepercayaan diri, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.

Dalam sejumlah kasus, korban bahkan menunjukkan gejala yang menyerupai gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD), seperti pikiran yang terus mengganggu (intrusive thoughts), kewaspadaan berlebihan (hypervigilance), dan isolasi sosial.

Seminar tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antara psikolog, praktisi keamanan informasi, aparat penegak hukum, regulator, lembaga keuangan, serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanganan cyber-scam.

Selain pendekatan teknis, para peserta juga didorong untuk memperkuat literasi digital berbasis psikologi, meningkatkan ketahanan mental, serta menyediakan dukungan psikososial bagi korban penipuan digital.

Melalui kegiatan ini, APSIFOR Aceh berharap masyarakat semakin memahami bahwa cyber-scam merupakan bentuk kejahatan yang memanfaatkan kerentanan psikologis manusia. Perlindungan terbaik, menurut para narasumber, adalah kombinasi antara kewaspadaan digital, literasi psikologis, dan kemampuan memverifikasi informasi sebelum mengambil keputusan di ruang digital.

“Jika teknologi dapat digunakan untuk menipu manusia, maka psikologi harus hadir untuk melindungi,” menjadi pesan utama yang mengemuka dalam seminar tersebut.[]