Pulau Dua Aceh Selatan, Hidden Gem dengan Panorama Laut yang Masih Alami

Redaksi
Pulau Dua, cocok untuk snorkeling. Foto: [HO/For Habanusantara]
Pulau Dua, cocok untuk snorkeling. Foto: [HO/For Habanusantara]
A-AA+A++

Habanusantara.net – Laut biru yang tenang, pasir putih yang bersih, dan deretan pohon kelapa yang melambai tertiup angin menjadi pemandangan pertama saat tiba di Pulau Dua, Aceh Selatan.

Tempat ini memang belum seramai destinasi wisata populer lainnya di Aceh, namun justru di situlah daya tariknya.

Pulau kecil yang berada di perairan Gampong Ujung Pulau Rayeuk, Kecamatan Bakongan Timur, ini mulai banyak diburu wisatawan yang ingin menikmati suasana pantai yang masih alami dan jauh dari hiruk-pikuk kota.

Pulau Dua sebenarnya terdiri dari dua pulau yang berdampingan, yakni Pulau Kayee dan Pulau Tengku. Jarak keduanya sangat dekat dan membentuk panorama unik di tengah laut lepas.

Masyarakat setempat percaya, dua pulau ini dulunya merupakan satu daratan yang terbelah akibat pertarungan naga raksasa dengan tokoh legendaris Tuan Tapa. Cerita itu masih hidup dan sering diceritakan kepada wisatawan yang datang berkunjung.

Namun bukan hanya legenda yang membuat Pulau Dua menarik. Alamnya yang masih terjaga menjadi alasan banyak orang rela datang jauh-jauh ke kawasan ini.

Perjalanan menuju Pulau Dua dimulai dari Kota Tapaktuan menuju Gampong Ujung Pulau Rayeuk dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam perjalanan darat. Setelah itu, wisatawan harus menyeberang menggunakan perahu nelayan sekitar 15 menit.

Biaya penyeberangan juga tergolong terjangkau, sekitar Rp35 ribu per orang untuk perjalanan pulang pergi.

Sesampainya di pulau, wisatawan langsung disambut air laut jernih berwarna biru kehijauan. Ombaknya relatif tenang, cocok untuk berenang maupun snorkeling.

Di sekitar pantai juga terdapat dermaga apung berbentuk huruf T yang menjadi tempat bersandar perahu-perahu nelayan dan wisatawan.

Pulau Kayee menjadi lokasi yang paling ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan dan musim libur. Sementara Pulau Tengku masih terlihat lebih sepi dan alami, cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana privat.

Duta Wisata Aceh Selatan, Warisatul Ambia, mengatakan Pulau Dua memiliki potensi besar sebagai wisata bahari unggulan di wilayah barat selatan Aceh.

“Pulau Dua punya panorama yang lengkap. Lautnya jernih, pasirnya putih, suasananya juga masih alami. Banyak wisatawan suka karena tempatnya tenang,” kata Warisatul Ambia.

Menurutnya, kombinasi alam dan cerita legenda membuat pengalaman wisata di Pulau Dua terasa berbeda dibanding destinasi lain.

“Wisatawan bukan cuma datang menikmati pantai, tapi juga mendengar cerita budaya yang hidup di masyarakat sekitar,” ujarnya.

Selain menikmati pemandangan laut, wisatawan juga bisa mencicipi kuliner khas pesisir yang dijual warga di sekitar pantai.

Ikan bakar menjadi menu favorit yang paling banyak dicari pengunjung. Aroma ikan segar yang dibakar dengan bumbu sederhana terasa semakin nikmat disantap di pinggir pantai sambil menikmati angin laut.

Beberapa warga juga menyediakan kelapa muda dan makanan ringan khas pesisir Aceh Selatan.

Salah seorang pelaku wisata lokal, Ridwan, mengatakan kunjungan wisatawan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Sekarang makin banyak wisatawan dari luar daerah datang ke sini, terutama dari Medan dan Banda Aceh. Banyak yang tahu Pulau Dua dari media sosial,” katanya.

Menurut Ridwan, wisatawan biasanya tertarik karena suasana pulau masih bersih dan belum terlalu padat.

“Orang datang ke sini cari ketenangan. Mereka suka karena pantainya masih alami,” ujarnya.

Aktivitas snorkeling juga menjadi daya tarik tersendiri. Air laut yang bening membuat wisatawan bisa melihat terumbu karang dan ikan kecil di sekitar pulau dengan cukup jelas.

Menjelang sore, suasana Pulau Dua terasa semakin tenang. Langit perlahan berubah jingga, sementara suara ombak terdengar lembut di sepanjang bibir pantai.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana lebih lama, tersedia penginapan sederhana di sekitar pulau.

Meski mulai dikenal luas, masyarakat setempat berharap keaslian Pulau Dua tetap terjaga. Wisatawan juga diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan agar kebersihan pantai dan laut tetap terpelihara.

“Keindahan pulau ini harus dijaga bersama. Kalau alamnya rusak, daya tariknya juga akan hilang,” kata Warisatul.

Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, Rahmad Hidayat, mengatakan masyarakat kini mulai aktif menjaga kawasan wisata agar tetap bersih dan nyaman bagi pengunjung.

“Kami bersama warga rutin membersihkan area pantai dan mengingatkan wisatawan agar tidak membuang sampah sembarangan. Karena kalau alamnya rusak, wisatawan juga tidak akan datang lagi,” kata Rahmad.

Ia mengaku warga berharap pemerintah terus mendukung pengembangan fasilitas wisata tanpa merusak keaslian pulau.

“Kami ingin Pulau Dua tetap alami. Itu yang jadi daya tarik utama wisatawan,” ujarnya.

Aktivitas snorkeling juga menjadi daya tarik tersendiri. Air laut yang bening membuat wisatawan bisa melihat terumbu karang dan ikan kecil di sekitar pulau dengan cukup jelas.

Menjelang sore, suasana Pulau Dua terasa semakin tenang. Langit perlahan berubah jingga, sementara suara ombak terdengar lembut di sepanjang bibir pantai.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana lebih lama, tersedia penginapan sederhana di sekitar pulau.

Meski mulai dikenal luas, masyarakat setempat berharap keaslian Pulau Dua tetap terjaga. Wisatawan juga diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan agar kebersihan pantai dan laut tetap terpelihara.

Pulau Dua memang belum sebesar destinasi wisata terkenal lainnya. Namun justru karena masih alami, tempat ini menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan di banyak lokasi wisata modern.

Di tengah debur ombak dan semilir angin laut, Pulau Dua menawarkan sesuatu yang sederhana: ketenangan, keindahan alam, dan suasana yang membuat orang ingin kembali lagi.[***]