News196

PT GLEH Operasikan Insinerator Limbah B3, Aceh Bidik PAD Puluhan Miliar

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net – Aceh kini mulai mengelola sendiri limbah medis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang selama ini dikirim ke luar daerah. PT Garda Lestari Ekologi Hutama (PT GLEH) resmi mengoperasikan mesin insinerator limbah B3 medis di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Blang Bintang, Aceh Besar.

Seremoni Peresmian pengoperasian fasilitas tersebut digelar di Hermes Palace Hotel, Kamis (7/5/2026).

Direktur PT GLEH, Teuku Emi Syamsyumi atau mengatakan kehadiran fasilitas ini menjadi langkah awal agar pengelolaan limbah medis tidak lagi bergantung pada daerah lain.

“Selama ini limbah B3 dari Aceh dibawa keluar daerah. Padahal potensi ekonominya sangat besar dan seharusnya bisa dikelola sendiri di Aceh,” kata Emi Syamsyumi akrab disapa Abu Salam.

Ia menjelaskan, limbah medis dari sekitar 86 rumah sakit di seluruh Aceh diperkirakan mencapai 11 hingga 15 ton per hari, atau sekitar 4.000 ton per tahun.

Menurutnya, jika seluruh limbah tersebut dapat diolah di dalam daerah, maka potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dihasilkan bisa mencapai puluhan miliar rupiah setiap tahunnya.

 

“Potensi PAD bisa mencapai Rp50 sampai Rp70 miliar per tahun. Selama ini itu hilang karena pengelolaannya dilakukan di luar Aceh,” ujarnya.

Selama bertahun-tahun, limbah medis dari berbagai fasilitas kesehatan di Aceh harus dikirim ke Medan hingga Pulau Jawa untuk dimusnahkan. Selain memakan biaya besar, kondisi tersebut juga membuat perputaran ekonomi dari sektor pengelolaan limbah tidak dirasakan daerah.

Mesin insinerator milik PT GLEH yang mulai beroperasi saat ini memiliki kapasitas sekitar enam ton per hari. Namun perusahaan memastikan kapasitas tersebut akan terus ditingkatkan secara bertahap.

Untuk mendukung pengembangan itu, PT GLEH telah menyewa lahan milik pemerintah di kawasan Ladong, Aceh Besar. Lokasi tersebut akan dibangun sebagai pusat pengolahan limbah terpadu, mulai dari limbah organik, nonorganik hingga limbah B3.

Proses pembangunan fasilitas tambahan diperkirakan berlangsung selama 12 hingga 18 bulan ke depan.

Abu Salam mengaku ingin menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan di Aceh. Berbekal pengalaman yang pernah didapat selama di Australia, ia ingin persoalan sampah di Aceh bisa ditangani lebih serius.

“Kita ingin Aceh ke depan lebih bersih dan semua jenis sampah bisa dikelola dengan baik di daerah sendiri,” katanya.

Selain membuka peluang PAD, industri pengolahan limbah ini juga diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran.

Manfaat lainnya juga dirasakan rumah sakit. Dengan adanya fasilitas pemusnahan limbah di Aceh, biaya pengelolaan limbah medis disebut dapat ditekan hingga 30 persen karena tidak lagi terbebani ongkos pengiriman ke luar provinsi.

“Kalau pengelolaan sudah ada di Aceh, tentu biaya logistik rumah sakit juga jauh lebih ringan,” pungkasnya.[Is]