Anggota DPRK Banda Aceh Dorong Investasi Budidaya Tiram untuk Tingkatkan Ekonomi Pesisir

Redaksi
Anggota DPRK Banda Aceh dari Partai Demokrat, Zulkasmi
Anggota DPRK Banda Aceh dari Partai Demokrat, Zulkasmi
A-AA+A++

Habanusantara.net – Potensi budidaya tiram di kawasan pesisir Alue Naga dinilai masih menyimpan peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Melihat besarnya potensi tersebut, Anggota DPRK Banda Aceh dari Partai Demokrat, Zulkasmi, meminta Pemerintah Kota Banda Aceh membuka ruang kerja sama dengan investor agar budidaya tiram di wilayah itu dapat dikelola lebih modern dan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi warga.

Menurut Zulkasmi, selama ini masyarakat pesisir, khususnya di Alue Naga dan kawasan sekitarnya, telah lama menggantungkan penghasilan dari hasil tiram. Namun aktivitas yang dilakukan masih bersifat tradisional, sehingga hasil yang diperoleh belum mampu memberikan keuntungan maksimal.

“Potensi tiram di kawasan Alue Naga sangat besar. Jika dikelola dengan baik dan didukung teknologi serta investasi, ini bisa menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi masyarakat setempat,” kata Zulkasmi kepada media ini, Rabu (11/3/2026).

Ia menilai, pemerintah daerah perlu melihat sektor budidaya tiram sebagai peluang ekonomi yang layak mendapat perhatian serius. Apalagi kawasan pesisir Banda Aceh memiliki kondisi alam yang mendukung untuk pengembangan komoditas tersebut dalam jangka panjang.

Selama ini, kata dia, masyarakat hanya memanfaatkan potensi yang ada dengan cara sederhana. Hasil panen kemudian langsung dijual tanpa melalui proses pengolahan yang mampu meningkatkan nilai jualnya. Kondisi itu membuat keuntungan yang diperoleh petani tiram masih terbatas.

Karena itu, Zulkasmi berharap pemerintah dapat menghadirkan investor atau pelaku usaha yang memiliki pengalaman di bidang budidaya perikanan dan hasil laut. Kehadiran investor dinilai bukan hanya untuk menanamkan modal, tetapi juga membawa teknologi, sistem budidaya yang lebih baik, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.

Menurutnya, pengembangan budidaya tiram tidak cukup hanya meningkatkan produksi. Yang tidak kalah penting ialah membangun rantai usaha dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bibit berkualitas, teknik budidaya yang lebih efisien, proses panen yang terstandar, sampai pengolahan hasil menjadi produk bernilai tambah.

“Selama ini masyarakat memanen tiram secara sederhana. Ke depan kita berharap ada sistem budidaya yang lebih modern, termasuk pengolahan hasil tiram menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya.

Ia menyebut, apabila pengolahan sudah dilakukan secara baik, hasil tiram tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan yang memiliki daya saing lebih tinggi. Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperluas peluang pemasaran hingga ke luar daerah.

Selain berdampak terhadap peningkatan pendapatan warga, pengembangan budidaya tiram juga dinilai mampu membuka lapangan pekerjaan baru. Bukan hanya bagi petani tiram, tetapi juga masyarakat yang bergerak di sektor pengolahan, distribusi, hingga pemasaran hasil produksi.

Zulkasmi melihat peluang ini sangat terbuka, mengingat permintaan terhadap produk hasil laut terus mengalami peningkatan. Dengan dukungan investasi dan pendampingan yang tepat, kawasan Alue Naga berpotensi berkembang menjadi salah satu sentra budidaya tiram di Banda Aceh.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan sektor ini juga akan memberi dampak terhadap tumbuhnya usaha mikro dan kecil berbasis hasil laut. Masyarakat dapat mengembangkan berbagai produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding hanya menjual hasil panen mentah.

Ia berharap dinas terkait segera melakukan kajian menyeluruh mengenai potensi kawasan Alue Naga, termasuk kebutuhan infrastruktur, pola budidaya, hingga peluang kerja sama dengan pihak swasta. Kajian tersebut dinilai penting agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan dan kebutuhan masyarakat.

Zulkasmi mengatakan, keterlibatan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjembatani masyarakat dengan investor, sehingga kerja sama yang dibangun nantinya tetap berpihak kepada kepentingan warga pesisir. Ia juga berharap para petani memperoleh pendampingan dan pelatihan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi budidaya yang lebih modern.

Menurutnya, jika seluruh potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, budidaya tiram bukan hanya menjadi mata pencaharian masyarakat, tetapi juga dapat berkembang sebagai sektor ekonomi unggulan yang memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

“Jika dikelola secara serius dengan melibatkan investor dan dukungan pemerintah, sektor tiram ini bisa menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat Alue Naga dan sekitarnya,” kata Zulkasmi.[***]