Siswa Terdampak Bencana di Aceh Utara Terancam Gagal Lanjut Kuliah

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net – Sejumlah siswa tingkat akhir di Aceh Utara terancam tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi akibat dampak bencana banjir yang melanda wilayah tersebut.

Salah satunya dialami Asmaul Husna, siswi kelas XII SMA Negeri 1 Baktiya, warga Desa Alue Bilie Geulumpang, Kecamatan Baktiya. Banjir setinggi sekitar 2,5 meter yang terjadi beberapa waktu lalu mengakibatkan seluruh perlengkapan sekolahnya hilang, termasuk seragam dan alat tulis.

“Seragam saya hilang semua. Sekarang saya ke sekolah hanya pakai baju biasa,” ujar Asmaul.

Padahal, saat bencana terjadi, Asmaul dan teman-temannya sedang menghadapi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Seleksi (SNMPTN), jalur yang selama ini ia harapkan menjadi pintu masuk ke perguruan tinggi.

Kondisi sekolah yang belum sepenuhnya pulih turut memperberat proses belajar. Saat ini, kegiatan pembelajaran masih dilakukan di kelas darurat, dengan satu ruangan diisi hingga 35 siswa, bahkan beberapa kelas digabung karena keterbatasan ruang.

Meski proses pembersihan sekolah telah dilakukan sejak awal Desember, aktivitas belajar mengajar belum dapat berjalan normal.

Selain kehilangan perlengkapan sekolah, kondisi ekonomi keluarga juga semakin sulit. Asmaul berasal dari keluarga buruh tani, sementara lahan sawah yang menjadi sumber penghidupan turut terdampak banjir.

Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) yang diterima terpaksa digunakan untuk kebutuhan pokok keluarga, sehingga tidak lagi dapat menunjang persiapan pendidikan.

“Sekarang yang penting saya bisa kuliah. Dulu ingin ke luar Aceh, tapi sekarang berharap bisa kuliah di Aceh saja,” katanya.

Hal serupa juga dialami Bella, siswi kelas XI SMA yang turut terdampak bencana. Ia sebelumnya berupaya mempertahankan peringkat dan nilai akademik sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun kondisi pascabencana membuat harapan tersebut terancam.

“Walaupun saya masih kelas XI saya sudah mempersiapkan dari sekarang untuk kuliah, uang yang ditabung pun sudah tak ada lagi,” ucapnya.

Saat ini, mereka hanya berharap beasiswa dari pemerintah sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pemerintah menargetkan pemulihan sekolah-sekolah terdampak bencana di Aceh dapat rampung agar kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal pada tahun ajaran 2026/2027.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat melakukan kunjungan kerja ke Aceh Utara, Rabu (28/1/2026), untuk meninjau langsung kondisi satuan pendidikan terdampak bencana sekaligus meresmikan revitalisasi sejumlah sekolah.

Untuk sementara, sekolah yang mengalami kerusakan berat akan difasilitasi kelas darurat agar hak belajar peserta didik tetap terpenuhi.

“Target kami, pada tahun ajaran baru 2026–2027, sekolah dengan kerusakan ringan dan sedang sudah dapat berfungsi kembali secara normal,” ujar Abdul Mu’ti.[Fira]