Habanusantara.net – Kasus pembunuhan tragis di Medan yang melibatkan anak berusia 12 tahun memicu keprihatinan DPR RI terhadap dampak gim daring dan konten digital bertema kekerasan terhadap anak.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menilai bahwa peristiwa tragis tersebut menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk memperhatikan dampak dari konten kekerasan daring.
Menurut Sukamta, meskipun gim bukan satu-satunya penyebab kejahatan, berbagai penelitian menunjukkan paparan kekerasan secara terus-menerus dapat meningkatkan agresivitas dan menurunkan empati anak.
“Anak adalah peniru ulung, sementara kemampuan menyaring informasi mereka belum berkembang sempurna,” ujar Sukamta dikutip Parlementaria DPR RI, Kamis (8/1/2026).
Ia juga menyoroti industri gim yang dinilai kerap mengejar keuntungan dengan memproduksi konten adiktif dan memacu adrenalin, termasuk gim bertema pembunuhan. Kondisi ini membuat anak semakin rentan terpapar konten negatif jika tanpa pengawasan.
Selain regulasi negara, Sukamta menekankan pentingnya peran keluarga dan literasi digital. Kurangnya pendampingan orang tua, ditambah personalisasi di media sosial, membuka peluang masuknya pengaruh negatif ke dalam rumah.
“Teknologi harus dikelola dengan bijak. Komunikasi dalam keluarga, pendampingan anak, serta lingkungan sekolah dan masyarakat yang sehat menjadi kunci utama pencegahan,” katanya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, industri digital, keluarga, dan masyarakat dapat menekan dampak konten negatif serta melindungi masa depan anak-anak Indonesia.




















