Habanusantara.net– Untuk sampai pada akar sejarah, terkadang dibutuhkan upaya fisik dan spiritual. Itulah yang dirasakan para peziarah yang mengunjungi Makam Sulthan Salatin Alaiddin Ria’yat Syah, atau yang lebih dikenal sebagai Po Teumeureuhom. Terletak jauh di Puncak Glee Kandang, Gampong Gle Jong, Aceh Jaya, makam ini bukanlah sekadar peristirahatan terakhir seorang tokoh, melainkan titik nol berdirinya Kerajaan Islam Negeri Daya pada tahun 1480 Masehi.
Bagi Rahmi (22), seorang mahasiswi yang menempuh perjalanan dua jam dari Banda Aceh, makam ini adalah laboratorium terbuka. Ia datang bukan hanya untuk berziarah, tetapi untuk merasakan kedalaman sejarah yang tak mampu dijelaskan oleh buku teks.
”Masyarakat Aceh Jaya mungkin lebih dulu mengenal Islam sebagai institusi politik yang kuat di sini, jauh sebelum Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncaknya,” tutur Rahmi, saat ia mulai menapaki anak tangga pertama.
Perjalanan menuju makam ini memang menawarkan sensasi penemuan. Aksesnya yang beraspal mulus dari jalan raya Banda Aceh–Meulaboh terasa kontras ketika kendaraan harus berbelok ke jalan desa yang tenang. Pemandangan hamparan sawah hijau dan laut memukau ala pedesaan menjadi setting yang memanjakan mata, seolah menyiapkan jiwa untuk tempat yang sakral.
Tantangan sesungguhnya datang ketika sampai di lokasi: kurang lebih 100 anak tangga harus ditaklukkan untuk mencapai komplek makam yang berada di atas ketinggian.
“Seratus anak tangga ini adalah filter, pemisah antara keriuhan dunia luar dengan keheningan sejarah di atas sana,” kata Rahmi, jeda sejenak untuk mengatur napas. “Begitu sampai, Anda tahu tempat ini memiliki bobot sejarah yang luar biasa,” ujarnya.
Setibanya di puncak, hawa dingin khas ketinggian menyambut, berpadu dengan arsitektur makam tradisional yang memikat. Kompleks Makam Po Teumeumeureuhom menyimpan sepuluh makam bersejarah, termasuk makam pendiri kerajaan, dua anaknya,Putri Nurul Huda dan Radja Uzir Syah, serta para sahabat beliau.
Po Teumeureuhom, Sulthan Salatin Alaiddin Ria’yat Syah, dikenal sebagai ulama yang berhasil menggabungkan kekuatan spiritual dan politik, meletakkan fondasi bagi Islam sebagai ideologi pemerintahan di Aceh. Makam ini adalah bukti fisik dari era keemasan awal tersebut.
Dari area makam yang damai, pandangan Rahmi membentang luas. Ia bisa melihat garis pantai yang melengkung dan hamparan Samudra Hindia yang biru membentang. Pemandangan ini seolah memberikan konteks yang sempurna bagi sebuah kerajaan maritim yang didirikan oleh seorang ulama.
“Dari sini, kita bisa lihat laut dari kejauhan. Ini sangat indah,” kata Rahmi, mengulangi apa yang sering dirasakan oleh pengunjung lain. “Tapi lebih dari sekadar indah, view ini menunjukkan betapa strategisnya lokasi kerajaan awal ini.”
Keunikan lain dari ziarah di Puncak Glee Kandang adalah ritual mata air yang dipercaya memiliki keberkahan. Pengurus makam menyediakan air dari sumber mata air di dalam guci, yang sering digunakan pengunjung untuk membasuh kepala atau diminum sambil memanjatkan doa.
Rahmi mencatat adanya tradisi permohonan hajat, bahkan banyak orang tua membawa anaknya yang memiliki keterbatasan, sebagai wujud keyakinan bahwa doa di sekitar makam wali Allah akan dimudahkan segala urusannya.
Pengurus makam, Zulkifli, membenarkan ramainya pengunjung, terutama saat hari-hari besar Islam. “Ramai kalau menjelang puasa dan hari besar Islam,” tuturnya, menegaskan peran makam ini sebagai pusat wisata religi yang hidup dan sakral.
Bagi Rahmi, makam Po Teumeureuhom adalah sebuah permulaan. Tempat ini bukan hanya tentang masa lalu yang gelap, tetapi tentang bagaimana cahaya Islam pertama kali memimpin sebuah pemerintahan di Aceh.

Saat matahari mulai beranjak, dan Rahmi menuruni seratus anak tangga itu, ia membawa pulang lebih dari sekadar foto. Ia membawa sebuah kesadaran bahwa kebesaran Aceh sebagai Serambi Mekkah dimulai dari sebuah puncak sunyi di Aceh Jaya, yang didirikan oleh seorang ulama dan kini dijaga oleh para peziarah yang mencari berkah dan kebenaran sejarah. Makam Po Teumeureuhom tetap menjadi pilar bisu, tempat sejarah dan keimanan bertemu di atas ketinggian.




















