Habanusantara.Net – Ratusan petani kopi di wilayah Pantan Antara harus merasakan pilu yang mendalam, hal itu dipicu kondisi jalan yang mereka lalui setiap harinya sudah sangat memprihatinkan dan sudah banyak warga menjadi korban ketika melalui jalan yang hancur hancuran itu.
Selain kondisi jalan, kepedihan yang juga harus dirasakan para petani adalah tekanan harga kopi gelondong maupun gabah oleh pengepul (toke) disana.
Warga juga tidak menyalahkan toke yang membeli kopi mereka lebih murah dari daerah lain di Kecamatan Permata. Sebab akses untuk mengangkut hasil panen warga disana taruhannya adalah nyawa lantaran akses jalan yang rusak parah.
“Kepedihan yang paling kami rasakan selaku petani kopi di wilayah Pantan Antara ketika memasuki masa panen raya, karena ada tekan harga habis-habisan. Itu terjadi bukan kecurangan toke kopi akan tetapi karena akses jalan yang kian memperlihatinkan,”kata Sahudin, Senin (17/9/2025) kepada media ini.
Akibat kondisi jalan yang rusak parah, terlebih-lebih lagi bila musim hujan membuat warga yang melalui jalan itu harus ekstra hati-hati. Sebab salah perhitungan pengguna jalan bisa berakibat fatal.
“Sangking sulitnya jalan tersebut, warga sampai menamai jalan itu tanjakan neraka. Dan sudah banyak yang jadi korban,”ungkap Sahudin.
Ia menyebutkan, awalnya wilayah Pantan Antara itu secara administratif masuk kedalam wilayah Kampung Rikit Musara, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah namun belakangan terjadi konflik tapal batas wilayah antara Aceh Utara dan Bener Meriah.
“Berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagrqi) nomor 126 tahun 2022 maka wilayah Pantan Antara masuk dalam wilayah Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara, sejak itu perhatian pemerintah terhadap Pantan Antara sudah tidak ada lagi,”ungkap mantan Reje Kampung ( Kepala desa) Rikit Musara itu.
Yang paling menyakitkan bagi warga yang berdomisili disana, adalah keputusan pemerintah untuk merelokasi. Hal itu mendapat penolakan warga yang mayoritasnya merupakan penduduk Kabupaten Bener Meriah.
Akibat persoalan tapal batas itu, kata Sahudin, anggaran dana desa juga di hentikan untuk membangun infrastruktur di Pantan Antara. Warga disana pun saat ini seperti merasakan posisinya “Anak terlantar” karena tidak mendapat perhatian baik dari Pemerintah Bener Meriah maupun Aceh Utara.
Padahal, warga disana juga membayar pajak kepada pemerintah. Tetapi pemerintah malah tutup mata dan membayarkan masyarakat disini bertahun tahun bertaruh nyawa untuk mengangkut hasil panen mereka melalui jalan yang rusak.
Mengingat, panen raya kopi akan segera tiba maka masyarakat bersepakat memperbaiki jalan ini secara swadaya dan bergotong royong.
“Kemarin kami dengan dana swadaya bergotong royong memperbaiki jalan. Kqrena masyarakat sudah tidak dapat mengantungkan harapannya kepada pemerintah karena sudah sering di ajukan agar pemerintah membangun jalan ini. Namun hasilnya nihil sama sekali di sebabkan masalah tapal batas antara Bener Meriah dengan Aceh Utara yang tidak pernah kunjung selesai,”jelas Sahudin.
Kedua Kabupaten itu hanya saling klim kalau daerah Pantan Antara itu masuk wilayah mereka, sementara kesejahteraan petani kopi tidak pernah di perhatikan khususnya di bidang pembangunan jalan padahal ratusan bahkan mungkin ribuan ton kopi di hasilkan dari petani kopi Rikit Musara dan Pantan Antara.
“Harapan kami mudah mudahan ada saudara kami yang terketuk pintu hatinya supaya dapat menyampaikan keluh kesah kami kepada pemerintah daerah maupun pusat agar segera menyelesaikan masalah tapal batas antara Bener Meriah dengan Aceh Utara, supaya tidak ada lagi kendala untuk membangun daerah ini kedepannya.
Lebih lebih pemerintah pusat dan Menteri Pertanian sedang gencar gencarnya mendongkrak perekonomian rakyat khususnya para petani,”pungkas Sahudin.[Gona]




















