Habanusantara.net — Kabar duka menyelimuti dunia politik Indonesia. Suryadharma Ali, tokoh senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sekaligus mantan Menteri Agama, tutup usia pada Kamis pagi, 1 Agustus 2025.
Informasi mengenai wafatnya Suryadharma beredar cepat di kalangan politisi dan awak media. Ia menghembuskan napas terakhir di RS Harapan Kita, Jakarta, setelah dirawat akibat komplikasi penyakit yang dideritanya selama beberapa waktu terakhir.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Suryadharma Ali. Semoga amal ibadah beliau diterima dan keluarga diberi ketabahan,” tulis akun resmi DPP PPP dalam unggahan Instagram mereka pagi tadi.
Sosok Suryadharma tidak asing bagi publik. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak 2009 hingga 2014. Meski masa jabatannya berakhir dengan kontroversi kasus hukum, tak sedikit yang mengenangnya sebagai politisi bersahaja yang gigih memperjuangkan kiprah partai berbasis Islam di tengah arus politik nasional.
Pria kelahiran Jakarta, 19 Oktober 1956 ini sudah berkecimpung lama di dunia politik. Ia memimpin PPP dalam periode krusial, termasuk saat partai itu menghadapi dinamika internal menjelang Pemilu 2009. Di bawah kepemimpinannya, PPP sempat mencapai perolehan suara yang cukup signifikan meski bersaing dengan banyak partai lain yang lebih besar secara finansial.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Sejumlah tokoh nasional dari berbagai latar belakang politik mulai berdatangan sejak pagi. Di antara yang terlihat hadir adalah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR Bambang Soesatyo, dan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama.
“Beliau itu tokoh yang tenang, tidak banyak bicara tapi tahu cara bekerja. Kami sering berdiskusi soal masa depan politik Islam di Indonesia,” ujar Mahfud MD yang juga hadir di rumah duka.
Kepergian Suryadharma juga memunculkan refleksi tentang perjalanan panjang PPP sebagai partai politik Islam yang penuh lika-liku. Banyak kader muda partai itu mengaku terinspirasi oleh gaya kepemimpinannya yang tenang namun tegas.
Beberapa tahun terakhir, Suryadharma diketahui lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Setelah menyelesaikan urusan hukumnya, ia perlahan menjauh dari panggung publik. Namun di kalangan internal PPP, namanya tetap disebut sebagai panutan dan figur yang masih disegani.
Indonesia kehilangan satu lagi tokoh yang sempat memberi warna penting dalam sejarah politik dan pemerintahan. Sosok yang mungkin tidak sempurna, tetapi tidak bisa dipisahkan dari perjalanan demokrasi Indonesia pascareformasi.





