Habanusantara.net – Pemerintah Kota Banda Aceh tampaknya tidak mau hanya berhenti di slogan “Kota Kolaborasi”. Melalui Dinas Pariwisata (Dispar), semangat itu diterjemahkan dalam langkah nyata: memperkuat sumber daya manusia (SDM) di sektor ekonomi kreatif.
Langkah ini bukan sekadar pelatihan formalitas, tapi strategi berkelanjutan untuk mencetak generasi kreatif yang mampu bersaing, mandiri, dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Banda Aceh itu punya banyak potensi anak muda kreatif, tinggal bagaimana kita bantu membuka ruang dan memperkuat kapasitas mereka,” ujar Iin Muhaira, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Banda Aceh.
Salah satu kegaitan peningkatan SDM adalah melalui Kegiatan pelatihan digelar oleh KAHF Area Aceh ini menjadi salah satu wujud nyata pengembangan SDM di sektor fashion dan jasa, khususnya dunia pangkas rambut atau barbershop.
Sebanyak 40 peserta dari berbagai kecamatan ikut ambil bagian dalam pelatihan ini.
“Pelatihan ini bukan cuma soal potong rambut. Kita ingin mereka juga paham bagaimana mengelola usaha, membangun merek, dan menumbuhkan mental wirausaha,” terang Iin.
Ia menegaskan, pelatihan seperti ini merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Bukan hanya untuk meningkatkan skill, tapi juga menyiapkan ekosistem usaha yang sehat dan berdaya saing.
“Kalau SDM kreatif kita kuat, otomatis sektor ekonomi ikut bergerak. Anak muda bisa buka usaha sendiri, menciptakan peluang kerja, dan akhirnya memperkuat ekonomi lokal,” jelasnya.
Menurut Iin, kunci dari pengembangan ekraf di Banda Aceh adalah kolaborasi. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu, Dispar terus memperkuat sinergi dengan komunitas, pelaku usaha, akademisi, dan lembaga mitra lain untuk memastikan ekosistem kreatif tumbuh seimbang.
“Sesuai semangat Kota Kolaborasi, semua pihak kita rangkul. Kita ingin Banda Aceh dikenal bukan hanya karena sejarah dan religiusitasnya, tapi juga karena kreativitas masyarakatnya,” ujar Iin.
Program Aceh Barber Preneur ini mendapat sambutan hangat dari para peserta. Mereka menilai kegiatan ini membuka pandangan baru bahwa profesi tukang cukur bisa berkembang menjadi usaha profesional dan berkelanjutan.
“Biasanya cuma potong rambut aja, tapi di sini kita belajar soal manajemen, marketing, bahkan branding usaha. Jadi lebih semangat buat buka barbershop sendiri,” kata salah satu peserta.
Bagi Dinas Pariwisata, kegiatan seperti ini bukan titik akhir, melainkan awal dari gerakan besar penguatan SDM kreatif di Banda Aceh. Ke depan, berbagai subsektor lain seperti kuliner, kriya, musik, dan digital juga akan digarap lebih serius.
Karena pada akhirnya, menurut Iin, pembangunan ekonomi kreatif bukan hanya tentang produk atau event, tapi tentang manusianya.
“SDM adalah fondasi. Kalau manusianya kreatif, maka kota ini akan tumbuh dengan caranya sendiri—unik, berdaya, dan berkarakter,” tutupnya.[***]





