“Rida Allah tergantung pada rida orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi, hasan sahih)
Hadis ini memperkuat bahwa mencari rida orang tua bukanlah sesuatu yang dilakukan secara seremonial, tapi menjadi kewajiban harian seorang muslim.
Hari Ayah dan Ibu: Tradisi Barat yang Tak Diajarkan Islam
Islam tidak mengenal Hari Ibu 22 Desember atau Hari Ayah setiap Minggu ketiga Juni. Itu bukan bagian dari ajaran Nabi atau generasi sahabat.
Bukan berarti Islam menolak kasih sayang, tapi menghindari pembatasan waktu dalam berbuat baik. Sebab, kasih sayang sejati tidak dibatasi oleh kalender.
Meskipun tidak ada larangan eksplisit dalam Islam untuk mengucapkan selamat Hari Ibu atau Hari Ayah, ulama sepakat bahwa meniru tradisi yang tidak ada dasarnya dalam syariat, tanpa memahami maknanya, bisa menimbulkan kekeliruan. Terutama jika perayaan tersebut hanya bersifat seremonial tanpa makna mendalam.
Ustaz Adi Hidayat pernah menyampaikan bahwa:
“Berbakti kepada orang tua tidak butuh waktu khusus. Kalau hanya setahun sekali, itu bukan bakti, itu selebrasi.”
Dengan kata lain, Islam tidak melarang kita mengucapkan terima kasih atau menunjukkan kasih sayang, tetapi menekankan agar kita tidak melupakan tanggung jawab itu di hari-hari lainnya.




















