Habanusantara.net, Pendidikan bukan hanya sekadar proses penyerapan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan kepribadian yang tangguh.
Di tengah tantangan biaya pendidikan yang sering menjadi hambatan, berbagai program beasiswa hadir sebagai solusi untuk membuka pintu akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Indonesia.
Namun, di balik program beasiswa, terdapat upaya untuk memastikan pengalaman pendidikan yang holistik, termasuk dalam hal adaptasi dan pembentukan karakter. Salah satu contohnya adalah program wajib asrama yang diterapkan di beberapa universitas, termasuk Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh.
Program wajib asrama menjadi bagian integral dari Program Beasiswa Kartu Indonesia Pintar – Kuliah (KIP-K) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Di USK, program ini menjadi salah satu strategi untuk memastikan bahwa mahasiswa penerima KIP-K tidak hanya mampu mengejar prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik dan siap menghadapi dunia kerja.
Namun, di balik tujuan mulia ini, muncul permasalahan mengenai efektivitas dan penerimaan program wajib asrama oleh mahasiswa.
Program wajib asrama di USK berlangsung selama satu tahun, di mana mahasiswa penerima KIP-K diwajibkan untuk tinggal di asrama universitas.
Selama tinggal di asrama, mereka tidak hanya diajarkan adaptasi terhadap lingkungan baru, tetapi juga nilai-nilai dan etika yang diharapkan dari seorang mahasiswa USK.
Program ini mencakup berbagai kegiatan, mulai dari kedisiplinan dalam menjaga waktu hingga pembinaan karakter melalui penyuluhan dan program-program lainnya.
Namun, meskipun program ini dirancang dengan baik, tidak sedikit mahasiswa yang menganggap asrama hanya sebagai tempat tinggal sementara. Beberapa di antaranya bahkan tidak sepenuhnya melaksanakan program-program yang telah disusun oleh pihak universitas.
Fenomena ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk adaptasi terhadap aturan yang ketat, tekanan sosial, dan eksposur terhadap budaya yang mungkin tidak sejalan dengan nilai-nilai yang ditekankan di asrama.
Permasalahan ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana menjadikan program wajib asrama lebih efektif dan diterima oleh mahasiswa. Salah satu pendekatan yang mungkin adalah dengan memperhatikan prinsip-prinsip Teori Self-Determination yang menekankan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterkaitan sosial dalam memotivasi individu.
Jika mahasiswa merasa bahwa program asrama mengurangi otonomi dan tidak memenuhi kebutuhan dasar mereka, motivasi intrinsik mereka dapat menurun.
Oleh karena itu, penting bagi pihak universitas untuk mempertimbangkan kembali struktur dan pelaksanaan program wajib asrama.
Hal ini termasuk memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembentukan aturan dan kegiatan asrama, serta memberikan dukungan yang cukup untuk memastikan kesejahteraan psikologis dan sosial mahasiswa selama masa adaptasi.
Dengan demikian, program wajib asrama di USK dan universitas lainnya dapat menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal sementara.
Mereka dapat menjadi rumah kedua yang menyediakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi, pembelajaran yang holistik, dan persiapan yang matang untuk menghadapi tantangan di masa depan.
[Penulis : M.Hanif Asrafi Ahmad, dkk, Mahasiswa Universitas Syiah Kuala]





