Terasi merupakan salah satu oleh-oleh khas Kota Langsa, Aceh. Banyak daerah yang memproduksi terasi tersebut, seperti di Gampong Lhokbanie, Simpang Lhee, Kuala Langsa dan lain sebagainya.
Kali ini penulis berkesempatan melihat pembuatan terasi di Gampong Lhokbanie, Langsa. Bumbu dapur favorit warga tersebut diproduksi oleh Rumah Terasi yang mulai beroperasi sejak tahun 2022.
“Rumah Terasi ini mulai beraktivitas tahun lalu, tapi saya sudah membuatnya sejak 2013,” kata Saiful Bahri, pemilik Rumah Terasi, Jumat, 23 Juni 2023.
Pria berusia 49 tahun ini lantas menjelaskan proses pembuatan terasi tersebut. Menurutnya, bahan baku utama ‘belacan’ ini yakni udang sabu atau lebih dikenal dengan nama Kecepe.
“Tidak sulit mendapatkan udang tersebut. Selain di wilayah sekitar, kita juga membelinya di Tanjung Balai, Sumatera Utara,’ jelas Saiful.
Ia melanjutkan, proses awal pembuatan terasi yaitu mencuci bersih udang-udang tersebut. Setelah dicuci lantas diberi garam kemudian dijemur.
Untuk penjemuran awal, bila matahari terik cukup satu hari saja. “Setelah kering kemudian digiling,’ ujar Saiful yang memiliki delapan orang pekerja itu.
Kemudian, udang-udang yang sudah dihaluskan dicetak menjadi terasi bulat-bulat kecil. Ada juga yang dijual dengan sistem kiloan.
Lanjut Saiful, setelah dicetak terasi tersebut kembali dijemur. Cukup tiga hari proses penjemurannya.
“Kalau cuaca panas, cukup tiga hari saja,” katanya.
Setelah kering, terasi-terasi mulai dikemas dan siap edar ke seluruh Aceh. ‘Hampir semua wilayah di Aceh ada menjual terasi ini,” sebutnya.
Tidak adanya kendala penjualan terasi tersebut, berdampak pada kelangsungan Rumah Terasi.
“Alhamdulillah, setelah bayar ongkos pekerja dan biaya produksi lainnya, dapatlah saya sekitar lima jutaan sebulan,” kata Saiful sambil.








