Diancam AS Lenyapkan Negaranya, Perempuan Iran Berbondong-bondong Ikut Angkat Senjata

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net — Puluhan perempuan ikut mendaftar dalam pelatihan militer sipil di Teheran di tengah meningkatnya ketegangan Iran-Amerika Serikat. Para peserta mendapatkan pelatihan dasar pertahanan dan pertolongan pertama dalam program yang dikaitkan dengan kampanye “Jan-Fada” atau “Pengorbanan untuk Iran”.

Pusat pelatihan pertama kampanye tersebut dibuka di Alun-alun Imam Hossein, Teheran, pada 24 September 2026. Pembukaan berlangsung dengan kehadiran Hossein Taeb, pejabat senior yang terkait dengan organisasi paramiliter Basij.

Menurut laporan yang dikutip media Iran, jumlah warga sipil yang mendaftar meningkat di tengah ancaman baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Teheran. Peserta mendaftarkan diri secara daring sebelum mengikuti pelatihan dasar.

Program tersebut merupakan bagian dari konsep pertahanan rakyat, yang memiliki akar sejarah pada mobilisasi masyarakat Iran selama perang Iran-Irak pada 1980-an. Dalam perkembangan terbaru, pelatihan juga mencakup keterampilan penggunaan senjata dan peralatan pertahanan.

Pelatihan itu dilaporkan mencakup penanganan senjata, peralatan pertahanan serta pertolongan medis taktis. Peserta yang telah mengikuti tahap awal dapat melanjutkan ke pelatihan berikutnya.

Kehadiran perempuan dalam program tersebut menjadi salah satu perkembangan yang terlihat dari mobilisasi sipil di Iran. Namun, laporan mengenai jumlah peserta dan tingkat keterlibatan masyarakat perlu dibaca secara hati-hati karena sebagian informasi berasal dari media dan sumber yang terkait dengan pihak-pihak dalam konflik.

Mobilisasi tersebut berlangsung ketika Washington dan Teheran masih berada dalam konflik sekaligus berupaya membuka kembali jalur perundingan.

Trump sebelumnya mengancam akan “melenyapkan” Iran jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS itu mengatakan keputusan besar mengenai Iran sedang dipertimbangkan.

Di tengah retorika tersebut, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Pejabat Amerika Serikat dan Iran kembali melakukan pembicaraan melalui mediator pada 28 September, dengan pembahasan antara lain menyangkut konflik, sanksi, blokade pelabuhan Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Presiden AS juga mengatakan pada 28 September bahwa ia memperkirakan perang dengan Iran akan berakhir dan menyatakan Amerika Serikat akan mencapai kemenangan.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan Amerika Serikat pada akhirnya akan dipaksa meninggalkan kawasan Timur Tengah setelah menerima apa yang disebutnya sebagai “pukulan menyakitkan”.

Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan tertulis yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Senin. Khamenei juga menyinggung Selat Hormuz dan Laut Arab, dua jalur strategis yang menjadi bagian penting dari ketegangan antara kedua negara.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik karena merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Perkembangan di kawasan tersebut juga menjadi bagian dari pembahasan dalam upaya diplomatik terbaru antara Washington dan Teheran.[*]