habanusantara.net– Cakupan imunisasi dasar lengkap di Kota Banda Aceh baru mencapai 21 persen pada 2026. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan capaian 2024 sebesar 35 persen dan 2025 sebesar 34 persen.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, dr. Supriady, mengatakan rendahnya cakupan imunisasi salah satunya berkaitan dengan pemahaman orang tua mengenai manfaat imunisasi bagi perlindungan kesehatan anak.
“Memang tingkat pemahaman masyarakat, terutama orang tua, terkait pentingnya imunisasi dan manfaatnya terhadap daya tahan tubuh anak masih kurang,” kata Supriady, Kamis (17/9/2026)
Menurutnya, Dinkes Banda Aceh telah memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk orang tua yang membawa anak ke Posyandu maupun Puskesmas. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan orang tua yang belum memberikan persetujuan ketika anak akan mendapatkan imunisasi.
Supriady mengatakan, dalam beberapa kasus, ibu yang sudah memahami manfaat imunisasi masih perlu meminta persetujuan suami sebelum anak divaksinasi. Ketika ayah belum memahami manfaat imunisasi atau terpengaruh informasi yang keliru mengenai vaksin, imunisasi anak akhirnya tidak dilakukan.
“Si ibunya selalu minta izin dulu sama bapaknya. Bapaknya enggak ngasih, ‘enggak usah,’ katanya,” ujarnya.
Karena itu, Dinkes Banda Aceh mulai memperkuat edukasi yang menyasar ayah melalui kelas ayah. Namun, Supriady mengakui edukasi tersebut belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga pemahaman para ayah mengenai imunisasi masih perlu diperkuat.
Ia menyebut temuan mengenai peran ayah dalam keputusan imunisasi juga sejalan dengan sejumlah penelitian yang diperoleh Dinkes, termasuk dari UNICEF serta penelitian Universitas Indonesia bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala.
Supriady menjelaskan, imunisasi penting untuk melindungi anak dari sejumlah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksin, seperti campak, difteri, tuberkulosis (TBC), pertusis, dan polio.
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi memiliki risiko lebih tinggi terserang penyakit-penyakit tersebut. Risiko penularan juga dapat meningkat ketika kekebalan kelompok atau herd immunity tidak terbentuk dengan baik.
“Kalau komunitas sesamanya juga tidak diimunisasi, tidak terbentuk kekebalan kelompok, herd immunity-nya tidak terbentuk, sehingga gampang sekali tertular,” katanya.
Menurut Supriady, penularan juga dapat terjadi ketika seseorang dari daerah lain membawa penyakit ke suatu wilayah dan kemudian menularkannya kepada orang yang belum memiliki perlindungan melalui imunisasi.
Ia menambahkan, di Banda Aceh sebelumnya juga ditemukan kasus campak, termasuk pada tahun lalu yang disebutnya cukup banyak.
Dinkes Banda Aceh pun terus mendorong orang tua untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai imunisasi dan memahami manfaatnya sebelum mengambil keputusan terkait imunisasi anak.[***]





