Habanusantara.net — Anggota DPRK Banda Aceh, Ismawardi, meminta seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) agar memberikan keringanan biaya kuliah bagi mahasiswa yang terdampak banjir dan longsor dahsyat di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025 lalu.
Bencana hidrometeorologi yang melanda kawasan tersebut tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga meluluhlantakkan rumah warga, lahan usaha, serta sumber mata pencaharian masyarakat. Dampaknya kini dirasakan hingga ke sektor pendidikan, terutama oleh keluarga mahasiswa yang kehilangan kemampuan ekonomi untuk membiayai perkuliahan anak-anak mereka.
“Banyak orang tua mahasiswa yang terdampak langsung banjir. Ada yang kehilangan rumah, usaha, bahkan pekerjaan. Dalam kondisi seperti ini, tentu sangat berat bagi mereka untuk tetap membayar SPP anaknya,” ujar Ismawardi kepada wartawan, Jumat 19 Desember 2025.
Menurutnya, mahasiswa menjadi kelompok yang rentan terdampak secara tidak langsung. Di satu sisi mereka dituntut tetap fokus menempuh pendidikan, namun di sisi lain kondisi ekonomi keluarga justru terpuruk akibat bencana yang tak terduga.
Ismawardi menegaskan, kampus sebagai institusi pendidikan memiliki peran moral dan sosial untuk hadir di tengah krisis kemanusiaan.
Ia mendorong agar pihak perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta—di Aceh maupun di luar Aceh—dapat mengambil kebijakan khusus bagi mahasiswa korban banjir.
“Keringanan itu bisa dalam bentuk pembebasan SPP untuk periode tertentu, penundaan pembayaran, atau subsidi biaya kuliah. Bahkan jika memungkinkan, bantuan biaya hidup juga sangat dibutuhkan bagi mahasiswa yang benar-benar terdampak,” katanya.
Ia menilai kebijakan tersebut bukan semata-mata soal administrasi pendidikan, tetapi bentuk kepedulian nyata terhadap masa depan generasi muda Aceh dan Sumatera yang sedang diuji oleh bencana.
Lebih lanjut, Ismawardi mengingatkan bahwa putus kuliah akibat tekanan ekonomi pascabencana akan menjadi kerugian besar bagi daerah. Mahasiswa, kata dia, adalah aset sumber daya manusia yang harus dijaga keberlanjutan pendidikannya
.
“Jangan sampai karena bencana, anak-anak kita terpaksa berhenti kuliah. Ini soal masa depan mereka dan masa depan daerah,” tegasnya.
Ia berharap, dalam waktu dekat kampus-kampus dapat segera merespons dengan kebijakan konkret dan tidak menunggu situasi semakin memburuk.
Menurutnya, solidaritas dan empati dunia pendidikan sangat dibutuhkan agar mahasiswa korban banjir tetap bisa bertahan dan melanjutkan studi mereka di tengah kondisi sulit.[is]





