Habanusantara.net — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat menunjukkan komitmen serius dalam meraih penghargaan Adipura tahun 2025 dengan mempersiapkan berbagai langkah strategis, salah satunya dengan membentuk dan melatih Satuan Tugas (Satgas) Adipura. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), kegiatan pelatihan intensif bagi calon anggota Satgas resmi dimulai sejak pertengahan September 2025.
Sebanyak 36 orang terpilih dari 12 kecamatan di Aceh Barat mengikuti pelatihan ini. Mereka diharapkan menjadi ujung tombak dalam mewujudkan lingkungan bersih dan sehat, terutama melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan pemanfaatan sistem bank sampah di tingkat desa.
Kepala Dinas PUPR Aceh Barat, Kurdi, menjelaskan bahwa pembentukan Satgas Adipura bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari strategi besar dalam mendukung transformasi budaya bersih di masyarakat. Para peserta akan dibekali pemahaman mendalam mengenai sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.
“Satgas ini bukan hanya dituntut untuk paham teori, tetapi juga harus mampu menjadi penggerak di lapangan. Mereka harus bisa mengajak masyarakat untuk ikut peduli dan terlibat dalam pengelolaan sampah, terutama melalui pendekatan bank sampah,” ujar Kurdi saat ditemui di sela kegiatan, Kamis (18/9/2025).
Rangkaian Pelatihan Bertahap dan Berjenjang
Pelatihan tahap pertama dimulai pada Jumat, 19 September 2025, dengan materi pengenalan dasar tentang pengelolaan sampah. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan konsep manajemen sampah terpadu dan peran penting bank sampah sebagai solusi praktis untuk mengurangi timbunan sampah rumah tangga.
Tahap kedua berlangsung pada Senin, 22 September 2025. Fokus pelatihan beralih pada pendalaman materi teknis, seperti sistem pemilahan sampah, proses penyimpanan yang aman, serta bagaimana mengelola sampah yang memiliki nilai ekonomis. Peserta juga diajarkan untuk menyusun sistem operasional bank sampah yang bisa diadopsi di komunitas mereka masing-masing.
Tak hanya terbatas pada sesi-sesi formal di ruang kelas, Dinas PUPR turut menggagas kegiatan inovatif bernama “Ngopi Sampah Bareng” yang digelar pada Selasa, 23 September 2025 di Kedai Kopi Meulaboh Premium. Agenda ini menjadi ruang diskusi terbuka bagi masyarakat umum untuk membicarakan isu sampah secara santai namun bermakna.
“Lewat ‘Ngopi Sampah Bareng’, kita ingin memperluas jangkauan edukasi. Tidak hanya Satgas, masyarakat pun bisa berbagi pengalaman dan ide terkait pengelolaan sampah. Harapannya, diskusi ini melahirkan solusi nyata dan bisa langsung diterapkan,” jelas Kurdi.
Pelatihan tahap ketiga dilanjutkan pada Kamis, 25 September 2025, dengan pendekatan praktik langsung di lapangan. Peserta didorong untuk memahami strategi pengelolaan sampah berbasis komunitas, merancang program edukasi lingkungan, hingga mengembangkan model bank sampah yang sesuai dengan kondisi lokal desa mereka.
Kemah Adipura: Belajar, Berbagi, dan Beraksi
Sebagai puncak dari seluruh rangkaian pelatihan, Dinas PUPR akan menggelar Kemah Adipura pada Sabtu dan Minggu, 27–28 September 2025. Kegiatan ini dipusatkan di kawasan Cot Rungkop, Desa Kuta Padang, yang selama ini dikenal sebagai area pengembangan ekonomi dan agrowisata.
Kurdi menjelaskan, kemah tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan aplikatif bagi para calon Satgas Adipura. Dengan suasana alam terbuka, peserta diajak untuk langsung mempraktikkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam sesi sebelumnya.
“Di Kemah Adipura, para peserta akan belajar sambil praktik. Mereka tidak hanya mendengarkan, tapi juga menjalankan simulasi pengelolaan sampah, dari pemilahan hingga membuat rencana pengembangan bank sampah di desanya,” paparnya.
Lebih dari itu, suasana kebersamaan yang tercipta dalam kemah ini diyakini mampu memperkuat kerja tim dan semangat kolaborasi di antara para peserta. Hal ini sangat penting mengingat Satgas Adipura nantinya harus mampu bekerja sebagai tim yang solid dalam menggerakkan perubahan sosial.
Lebih dari Sekadar Penghargaan
Adipura memang menjadi simbol prestise bagi pemerintah daerah dalam hal pengelolaan lingkungan. Namun menurut Kurdi, tujuan utama dari seluruh rangkaian kegiatan ini bukan semata mengejar trofi atau penghargaan nasional. Yang jauh lebih penting adalah dampak nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Adipura hanyalah bonus. Yang paling utama adalah bagaimana lingkungan kita menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk dihuni. Satgas ini dibentuk agar mampu membawa perubahan positif di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap, setelah pelatihan berakhir, para Satgas dapat kembali ke desa masing-masing dan menjadi pionir perubahan. Mereka diharapkan mampu menjalankan program bank sampah, mengedukasi masyarakat, serta membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan partisipatif.
“Kalau Satgas mampu menjalankan peran ini dengan baik, insyaallah target kita untuk meraih Adipura akan lebih mudah tercapai. Lebih dari itu, masyarakat kita akan hidup di lingkungan yang lebih layak dan sehat,” tutup Kurdi.
Membangun Budaya Bersih dari Akar Rumput
Langkah Pemkab Aceh Barat melalui Dinas PUPR ini mencerminkan keseriusan dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang partisipatif. Dengan melibatkan warga sejak awal melalui pelatihan, dialog publik, hingga praktik lapangan, program ini berpeluang menciptakan perubahan perilaku jangka panjang.
Jika konsistensi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Aceh Barat akan dikenal sebagai salah satu daerah terdepan dalam pengelolaan lingkungan di Tanah Rencong. Dan ketika itu terjadi, penghargaan Adipura bukan sekadar simbol, melainkan cermin keberhasilan membangun budaya bersih yang dimulai dari akar rumput.




















