Habanusantara.net, Jumlah penduduk miskin di Aceh kembali menurun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, per Maret 2025, angka kemiskinan turun menjadi 12,33 persen. Namun menariknya, di saat jumlah orang miskin berkurang, garis kemiskinan justru naik.
Laporan resmi yang dirilis BPS pada Jumat (25/7/2025) mencatat bahwa total penduduk miskin di Aceh kini berada di angka 704.690 orang. Itu berarti, sekitar 14.270 warga berhasil keluar dari kategori miskin dibandingkan enam bulan sebelumnya.
“Ini adalah kabar baik. Angkanya menurun lagi setelah tren positif sejak 2022,” kata Tasdik Ilhamudin, Pelaksana Tugas Kepala BPS Aceh.
Namun di tengah kabar positif itu, ada catatan penting. Garis kemiskinan, yang merupakan batas minimum pengeluaran untuk hidup layak, mengalami kenaikan. Dari sebelumnya Rp665.855 menjadi Rp676.247 per kapita per bulan.
Kenaikan garis kemiskinan ini menunjukkan bahwa biaya hidup di Aceh turut naik. Komoditas seperti beras, ikan, telur ayam, hingga rokok kretek filter masih menjadi penyumbang terbesar terhadap pengeluaran penduduk miskin.
Di wilayah pedesaan, persentase penduduk miskin turun cukup signifikan dari 14,99 persen menjadi 14,44 persen. Tapi berbeda dengan daerah perkotaan, yang justru mengalami kenaikan dari 8,37 persen menjadi 8,54 persen.
“Secara umum terjadi perbaikan. Tapi kita juga harus waspada karena tekanan ekonomi belum sepenuhnya mereda, apalagi di wilayah kota,” ujar Tasdik.
Selain jumlah dan persentase, BPS juga mencatat indikator penting lainnya, yaitu Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan. Kedua indikator ini juga menunjukkan perbaikan. Artinya, rata-rata pengeluaran penduduk miskin makin mendekati garis kemiskinan, dan kesenjangan antarwarga miskin juga mulai menyempit.
Meski tren penurunan ini patut diapresiasi, BPS mengingatkan bahwa angka kemiskinan masih berada di atas 700 ribu orang. Dengan garis kemiskinan yang terus naik, perjuangan menurunkan angka kemiskinan secara menyeluruh masih jauh dari selesai.
“Penurunan angka bukan akhir dari cerita. Kita harus pastikan masyarakat tidak sekadar lolos dari garis kemiskinan, tapi juga hidup layak dengan daya beli yang stabil,” tutup Tasdik.[]




















