Habanusantara.net — Aspirasi mahasiswa terkait isu LGBT menjadi salah satu pembahasan dalam rapat kerja Komisi VII DPRA bersama Dinas Syariat Islam Aceh, Satpol PP dan WH Aceh serta sejumlah instansi terkait.
Ketua Komisi VII DPRA, H. Ilmiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan rapat tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan syariat Islam di Aceh agar berjalan lebih efektif, terarah, dan sesuai kekhususan Aceh.
Menurut Ilmiza, aspirasi yang disampaikan mahasiswa perlu ditindaklanjuti melalui kewenangan lembaga legislatif dan dukungan pemerintah.
“Ini menjadi hal yang penting bagi kita sehingga apa yang kita hasilkan hari ini adalah menjawab keluhan mahasiswa yang menyampaikan kepada kami terkait persoalan LGBT,” kata Ilmiza dalam keterangannya.
Ia mengatakan Komisi VII memiliki tugas menerima aspirasi masyarakat, kemudian membahas langkah penyelesaiannya bersama pihak terkait.
Namun, Ilmiza menekankan upaya tersebut membutuhkan dukungan lintas instansi agar pelaksanaan syariat Islam dapat dilakukan secara komprehensif.
Dalam rapat tersebut, Komisi VII juga membahas kemungkinan evaluasi terhadap Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. Ilmiza menyebut evaluasi regulasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam melihat pelaksanaan syariat Islam di Aceh.
Selain itu, Komisi VII saat ini tengah berada pada tahap finalisasi sebuah rancangan qanun inisiatif yang diarahkan pada penguatan pendidikan keagamaan bagi generasi muda.
Rancangan tersebut mengatur pelaksanaan syariat Islam melalui pembelajaran ilmu fardhu ain serta baca tulis Al-Qur’an dalam pendidikan di seluruh Aceh.
Ilmiza menyebut rancangan qanun tersebut merupakan inisiatif Komisi VII DPRA dan pembahasannya telah memasuki penghujung tahapan.
“Komisi VII DPRA sedang mendorong lahirnya regulasi yang bertujuan memperkuat fondasi keagamaan bagi generasi kita, generasi muda,” ujarnya.
Ia berharap regulasi yang sedang difinalisasi tersebut nantinya menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pendidikan keagamaan di Aceh.
Ilmiza juga mengajak seluruh pihak untuk ikut mendukung upaya pembentukan generasi Aceh yang memiliki pemahaman keagamaan.
“Yang terpenting adalah kekuatan kita adalah doa. Doa dari Aceh, dari kita semua. Tiap habis salat kita doakan semoga Aceh ini betul-betul menjadi Aceh yang mulia,” katanya.[is]





