Menjaga Kehidupan Keagamaan di Perbatasan, Dai Aceh Aktif Bersama Masyarakat

*Tidak Hanya Dakwah

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net — Peran dai di daerah perbatasan tidak hanya terlihat ketika menyampaikan ceramah di masjid atau pengajian.

Kehadiran mereka juga dibutuhkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk ketika warga melangsungkan pernikahan.

Hal itu dijalankan Ustadz Darmansah Selian, S.Pd.I, Dai Perbatasan Aceh yang bertugas di Desa Deleng Megakhe, Kecamatan Badar, Kabupaten Aceh Tenggara.

Darmansah menghadiri acara pernikahan warga di Mbacang Lade, Kecamatan Lawe Bulan, senin 7 September 2026.

Dalam kegiatan tersebut, ia dipercaya menjadi saksi pernikahan sekaligus memberikan nasihat kepada kedua mempelai.

Kehadiran dai dalam acara seperti ini menjadi bagian dari pendekatan dakwah yang dilakukan di tengah masyarakat. Dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga hadir ketika masyarakat menjalani berbagai tahapan kehidupan.

Nasihat kepada pasangan yang baru membangun rumah tangga, misalnya, menjadi kesempatan untuk mengingatkan pentingnya menjalankan kehidupan keluarga dengan berpegang pada ajaran agama.

Rumah tangga bukan hanya tentang membangun kehidupan bersama, tetapi juga tempat pertama bagi seseorang untuk belajar tentang agama, ibadah dan tanggung jawab.

Karena itu, penguatan aqidah dan ibadah perlu dimulai dari keluarga. Suami dan istri memiliki peran untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, termasuk dalam menjalankan kewajiban agama dan mendidik anak-anak mereka kelak.

Darmansah mengatakan kehadiran seorang dai di tengah masyarakat memang harus menyentuh kehidupan sehari-hari. Menurutnya, masyarakat membutuhkan pendampingan agama bukan hanya ketika berada di masjid, tetapi juga dalam berbagai persoalan yang mereka hadapi.

“Dai harus bisa hadir bersama masyarakat. Bukan hanya saat memberikan ceramah, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Darmansah.

Selama menjalankan tugas sebagai Dai Perbatasan Aceh di Desa Deleng Megakhe, Darmansah terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Kegiatan sosial menjadi salah satu ruang yang cukup sering diikuti. Ketika ada warga yang mengalami kemalangan, misalnya, ia ikut dalam pelaksanaan fardu kifayah.

Begitu pula ketika ada kegiatan sunat rasul, perkawinan maupun kegiatan adat yang berlangsung di desa.

Kehadiran tersebut membuat hubungan dai dengan masyarakat tidak hanya sebatas hubungan antara penceramah dan jamaah. Dai menjadi bagian dari kehidupan warga dan ikut hadir ketika masyarakat sedang membutuhkan.

Di sisi lain, kegiatan keagamaan juga terus diikuti. Darmansah ikut memakmurkan masjid serta menghadiri kegiatan ibu-ibu pengajian dan wirid Yasin yang berlangsung di lingkungan masyarakat.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut, penyampaian nilai agama dapat dilakukan dengan cara yang lebih dekat. Tidak selalu dalam bentuk ceramah panjang, tetapi melalui nasihat, percakapan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini penting terutama di wilayah perbatasan, di mana kehadiran dai menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat.

Tugas Dai Perbatasan Aceh juga tidak hanya berkaitan dengan kegiatan masyarakat. Mereka turut dilibatkan dalam sejumlah agenda pemerintah daerah.

Darmansah, misalnya, ikut dalam kegiatan Suling Subuh Keliling, takbiran pada hari raya serta kegiatan Safari Ramadan.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, dai dan masyarakat.

Dai dapat menyampaikan pesan-pesan keagamaan sekaligus melihat langsung kondisi masyarakat di wilayah tempat mereka bertugas.

Pendekatan seperti ini membuat dakwah menjadi lebih dekat dengan persoalan yang dihadapi warga. Penguatan aqidah dan ibadah tidak hanya dibicarakan dalam teori, tetapi diterjemahkan melalui kebiasaan dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bagi seorang dai yang bertugas di wilayah perbatasan, kehadiran seperti itu menjadi penting. Masyarakat membutuhkan sosok yang bisa ditemui, diajak berdiskusi dan dimintai nasihat ketika menghadapi persoalan.

Darmansah pun terus menjalankan peran tersebut bersama masyarakat Desa Deleng Megakhe dan wilayah sekitarnya.

Dari pernikahan, kemalangan, pengajian hingga kegiatan keagamaan lainnya, kehadiran dai diharapkan semakin memperkuat hubungan sosial sekaligus kehidupan keagamaan masyarakat.

Sebab, dakwah pada akhirnya bukan hanya soal apa yang disampaikan dari atas mimbar. Dakwah juga tentang bagaimana seorang dai hadir, mendengar, membantu dan memberikan teladan ketika masyarakat menjalani kehidupannya.

Melalui peran tersebut, penguatan aqidah dan ibadah diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan agama, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang terlihat dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.[*]