Habanusantara.net – Pemerintah Aceh meluruskan mekanisme bantuan sekitar Rp2,5 triliun dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk pemulihan sektor pertanian dan perkebunan pascabencana hidrometeorologi. Dana tersebut ditegaskan bukan merupakan transfer ke kas Pemerintah Aceh, melainkan dialokasikan melalui satuan kerja (satker) Kementan dalam bentuk program, kegiatan, dan bantuan kepada petani.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan penjelasan itu disampaikan menyusul pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mendapat perhatian luas dari masyarakat.
“Pernyataan Bapak Menteri mendapat perhatian luas dari masyarakat sehingga Pemerintah Aceh merasa perlu memberikan penjelasan mengenai mekanisme pelaksanaan program tersebut agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda,” kata Nurlis di Banda Aceh, Selasa (5/8/2026).
Menurut Nurlis, substansi yang disampaikan Menteri Pertanian mengenai dukungan pemulihan sektor pertanian memang benar. Namun, pelaksanaannya mengikuti mekanisme pengelolaan keuangan negara sehingga anggaran tidak seluruhnya disalurkan ke pemerintah daerah.
Dari total alokasi sekitar Rp2,5 triliun, sekitar Rp515 miliar ditempatkan pada satker provinsi dan kabupaten/kota melalui skema Tugas Pembantuan (TP). Anggaran tersebut digunakan untuk optimalisasi lahan dan rehabilitasi sekitar 40 ribu hektare sawah.
Sementara sekitar Rp2 triliun lainnya dialokasikan melalui satker pusat dan balai di bawah Kementerian Pertanian. Anggaran itu digunakan untuk pengadaan alat dan mesin pertanian, benih padi, benih jagung, serta bantuan sektor perkebunan yang langsung diterima sebagai barang oleh pemerintah daerah dan petani.
“Provinsi dan kabupaten/kota hanya menerima manfaat berupa barang dari Kementan, sedangkan anggarannya berada pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN),” ujar Nurlis.
Ia menambahkan, hingga 3 Agustus 2026, realisasi anggaran Rp515 miliar yang dikelola satker daerah untuk optimalisasi lahan, rehabilitasi sawah, dan kegiatan pendukung telah mencapai 47,8 persen.
Berdasarkan data terbaru Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, luas sawah yang terdampak bencana mencapai 57.485 hektare. Rinciannya, 27.437 hektare mengalami rusak ringan, 13.651 hektare rusak sedang, 16.276 hektare rusak berat, serta 120 hektare dinyatakan hilang.
Saat ini, program optimalisasi lahan dan rehabilitasi telah berjalan pada 40.852 hektare sawah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Program tersebut dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh serta dinas pertanian kabupaten/kota di wilayah terdampak.
Nurlis juga menyampaikan Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengapresiasi dukungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terhadap percepatan pemulihan sektor pertanian dan perkebunan. Ucapan terima kasih itu, kata dia, disampaikan langsung Gubernur saat bertemu Menteri Pertanian di Jakarta pada 4 Agustus 2026.





