BI Aceh Panen Perdana Bawang Merah di Lahan Bekas Banjir Pidie Jaya

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya melakukan panen perdana bawang merah di lahan bekas terdampak banjir bandang di Desa Meunasah Teungoh, Kecamatan Meurah Dua, Selasa (7/7/2026).

Panen tersebut menjadi penanda dimulainya model pemulihan ekonomi berbasis pertanian yang dikembangkan di wilayah terdampak bencana.

Kegiatan itu merupakan bagian dari Program Percontohan Budidaya Tanaman Rotasi Bawang Merah yang diinisiasi BI Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Universitas Syiah Kuala (USK), dan kelompok tani setempat. Selain panen perdana, kegiatan juga dirangkai dengan penyerahan bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani dan kelompok garam terdampak bencana di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

Pada kesempatan tersebut, BI Aceh, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, USK, dan Satuan Tugas Rekonstruksi turut menandatangani komitmen bersama untuk memperkuat pengembangan klaster pertanian di daerah tersebut.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen BI dalam mendukung pemulihan ekonomi daerah melalui penguatan sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.

“Program ini merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam mendukung pemulihan ekonomi daerah melalui penguatan sektor riil, khususnya pertanian sebagai sumber penghidupan utama masyarakat,” kata Agus dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, program tersebut tidak hanya bertujuan mengembalikan produktivitas lahan yang terdampak banjir, tetapi juga membantu masyarakat kembali berproduksi, memperoleh penghasilan, dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

Agus menjelaskan, pengembangan bawang merah dilakukan dengan pendekatan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan benih varietas unggul, pemasangan mulsa, pemanfaatan dekomposer organik, hingga pendampingan intensif kepada kelompok tani.

“Melalui pendampingan dan praktik GAP yang berkelanjutan, lahan bekas banjir diharapkan tidak hanya sekadar menghasilkan panen bawang merah, tetapi juga menjadi model pemulihan ekonomi masyarakat berbasis pertanian,” ujarnya.

Program percontohan tersebut dikembangkan di lahan seluas lima hektare yang tersebar di sejumlah titik dengan tingkat kerusakan ringan, sedang, hingga berat akibat banjir bandang.

Selain bawang merah, BI Aceh juga mengembangkan komoditas cabai dan jagung sebagai bagian dari uji adaptasi tanaman di lahan bekas banjir. Namun, bawang merah dinilai memiliki prospek ekonomi lebih baik karena mampu memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus menjadi salah satu komoditas strategis penyumbang inflasi kelompok volatile foods di Aceh.

BI Aceh memastikan pendampingan tidak berhenti pada tahap budidaya. Petani juga akan memperoleh pelatihan pengolahan hasil pertanian serta dukungan akses pemasaran melalui jaringan agregator agar hasil panen memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Keberhasilan panen perdana tersebut turut didukung pendampingan teknis dari tim Fakultas Pertanian USK. Pendampingan diawali dengan survei kondisi lahan dan analisis unsur hara tanah, kemudian dilanjutkan dengan rekomendasi pemupukan, penyediaan nutrisi tanaman, penggunaan sistem penyiraman sprinkler, hingga pengendalian hama dan penyakit.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie Jaya, Muhammad Nur, mengatakan panen perdana itu menjadi momentum kebangkitan sektor pertanian pascabanjir. Pemerintah daerah, kata dia, juga tengah menyiapkan rehabilitasi gratis terhadap lahan sawah yang mengalami kerusakan berat agar petani dapat kembali bercocok tanam.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Munawar Ibrahim, yang mewakili Bupati Pidie Jaya, mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, pengembangan bawang merah tidak hanya mendukung pemulihan ekonomi petani, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan pengendalian inflasi daerah.

Pada masa tanggap darurat bencana sebelumnya, BI Aceh bersama Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) juga menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa sembako, beras, obat-obatan, dan kebutuhan dasar kepada masyarakat terdampak di Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Aceh Tengah.

Hingga pertengahan 2026, BI Aceh telah menyalurkan bantuan sarana dan prasarana produksi kepada tujuh kelompok sektor pertanian hortikultura dan garam. Selain itu, bantuan sarana penunjang pendidikan melalui Program Edukasi Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan (EPML) juga diberikan kepada dua dayah di wilayah terdampak bencana di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

BI Aceh berharap model pengembangan pertanian pascabencana tersebut dapat direplikasi di daerah lain sebagai upaya mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, serta menjaga stabilitas harga komoditas strategis di Aceh.