Habanusantara.net – Kebiasaan merokok pada usia muda mulai berdampak pada meningkatnya kasus penyakit tidak menular di Kota Banda Aceh. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banda Aceh menunjukkan, sepanjang 2021 hingga 2025 tercatat 468 kasus stroke dan penyakit jantung pada kelompok usia 15–19 tahun serta 20–44 tahun yang berkaitan dengan faktor risiko rokok dan pola hidup tidak sehat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa dampak merokok tidak hanya dirasakan dalam jangka panjang, tetapi juga dapat menyerang masyarakat usia muda dan produktif.
“Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya berupa biaya pengobatan yang tinggi, tetapi juga hilangnya masa produktif generasi muda,” ujarnya saat membuka Pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), Selasa (7/7/2026).
Menurut Wahyudi, tingginya kasus penyakit tidak menular tersebut sejalan dengan masih banyaknya perokok usia muda di Banda Aceh. Hasil skrining perilaku merokok yang dilakukan Puskesmas menemukan sebanyak 1.409 anak muda berusia 10–21 tahun telah aktif merokok.
Secara nasional, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai sekitar 70 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7,4 persen merupakan anak berusia 10–18 tahun.
Wahyudi menjelaskan, menghentikan kebiasaan merokok bukan perkara mudah karena kandungan nikotin dalam rokok menyebabkan ketergantungan. Banyak perokok gagal berhenti akibat gejala putus nikotin yang memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis.
Karena itu, Dinkes Kota Banda Aceh memperkuat kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) agar petugas di Puskesmas mampu memberikan konseling, pendampingan, dan edukasi kepada masyarakat yang ingin berhenti merokok.
“Pelayanan UBM di FKTP memiliki posisi strategis karena Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Tenaga kesehatan harus mampu memberikan pendampingan yang tepat bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok,” kata Wahyudi.
Pelatihan tersebut diharapkan dapat memperkuat layanan berhenti merokok di seluruh Puskesmas, sehingga masyarakat yang ingin lepas dari kecanduan nikotin memperoleh pendampingan yang tepat sekaligus menekan risiko penyakit akibat rokok di Kota Banda Aceh.[*]





