Tas Unik dari Pelepah Pinang, Oleh-Oleh Khas dari Pinggir Rawa Singkil Wildlife Reserve

Redaksi
Tas Unik dari Pelepah Pinang, Oleh-Oleh Khas dari Pinggir Rawa Singkil Wildlife Reserve
Duta Wisata Aceh Selatan, Warisatul Ambia memperlihatkan Tas Unik dari Pelepah Pinang, Oleh-Oleh Khas dari Pinggir Rawa Singkil Wildlife Reserve
A-AA+A++

Habanusantara.net — Menyusuri wilayah selatan Provinsi Aceh, wisatawan akan disuguhkan bentang alam yang masih alami dan relatif belum tersentuh hiruk pikuk pariwisata massal. Salah satu kawasan yang mulai menarik perhatian adalah Rawa Singkil Wildlife Reserve, sebuah suaka margasatwa yang dikenal sebagai habitat penting bagi berbagai satwa langka, termasuk orangutan Sumatra. Namun, di balik pesona alamnya, kawasan ini juga menyimpan kekayaan lain yang tak kalah menarik: kreativitas masyarakat desa dalam mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

Di Kecamatan Trumon Tengah, tepatnya di Desa Cot Bayu dan Ie Jeurneh, geliat ekonomi kreatif tumbuh dari sesuatu yang sederhana—pelepah pinang. Bagi sebagian orang, pelepah ini mungkin hanya dianggap limbah perkebunan. Namun, di tangan para ibu rumah tangga setempat, pelepah pinang disulap menjadi tas anyaman unik yang dikenal dengan nama “situk”.

Perjalanan menuju desa ini menjadi bagian dari pengalaman wisata yang autentik. Jalanan yang membelah perkebunan pinang dan hamparan hijau hutan tropis menghadirkan suasana yang menenangkan. Sesampainya di desa, wisatawan dapat melihat langsung aktivitas para perajin yang duduk berkelompok di teras rumah, menganyam pelepah pinang dengan penuh ketelitian.

Proses pembuatan tas “situk” dimulai dari pengumpulan pelepah pinang bekas yang diambil dari kebun warga. Pelepah tersebut kemudian dipilah, dibersihkan, dan dijemur hingga kering agar memiliki tekstur yang kuat dan tahan lama. Tahap selanjutnya adalah pengelupasan kulit luar untuk menghasilkan permukaan yang lebih halus dan cerah.

Setelah itu, pelepah dipotong sesuai ukuran dan dianyam secara manual menggunakan tangan. Pola anyaman yang digunakan bervariasi, mulai dari motif kotak hingga zig-zag, tergantung pada desain yang diinginkan. Setiap tas memiliki corak alami yang berbeda, mengikuti serat dan warna pelepah, sehingga tidak ada dua produk yang benar-benar sama.

“Dulu pelepah ini hanya dibuang atau dibakar. Sekarang justru jadi sumber penghasilan tambahan bagi kami,” ujar Nuraini (42), salah satu perajin di Desa Cot Bayu. Ia mengaku, dalam satu kelompok terdapat belasan ibu rumah tangga yang terlibat dalam proses produksi, mulai dari pengolahan bahan hingga finishing.

Kehadiran kerajinan ini tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga memperkuat nilai sosial di tengah masyarakat. Semangat gotong royong terlihat jelas dalam setiap proses produksi, di mana para ibu saling berbagi tugas sesuai keahlian masing-masing.

Produk tas pelepah pinang ini pun mulai dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas dari Aceh Selatan. Bagi wisatawan, terutama yang mencari suvenir ramah lingkungan dan autentik, “situk” menjadi pilihan yang menarik.

Duta Wisata Aceh Selatan, Warisatul Ambia, menegaskan bahwa potensi wisata daerah tidak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi juga pada produk lokal yang memiliki cerita.

“Wisata Aceh Selatan itu lengkap. Kita punya alam yang luar biasa seperti Rawa Singkil, tapi juga punya produk kreatif seperti tas pelepah pinang ini. Ini yang membuat pengalaman wisata jadi lebih berkesan,” ujarnya.

Menurut Warisatul, wisatawan yang datang ke desa-desa penyangga kawasan konservasi bisa merasakan pengalaman berbeda dibandingkan destinasi lain.

“Mereka bisa melihat langsung proses pembuatannya, berinteraksi dengan perajin, bahkan ikut mencoba menganyam. Ini bukan sekadar membeli oleh-oleh, tapi juga bagian dari wisata edukasi dan budaya,” tambahnya.

tas anyaman unik yang dikenal dengan nama “situk”.
tas anyaman unik yang dikenal dengan nama “situk” [Foto/HO For Habanusantara]

Kerajinan ini berkembang berkat dukungan dan pendampingan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh dan Wildlife Conservation Society Indonesia Program. Kedua lembaga ini mendorong masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis sumber daya lokal yang ramah lingkungan, sehingga dapat menjadi alternatif ekonomi tanpa merusak kawasan hutan.

Meski demikian, para perajin masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan bahan baku dan belum optimalnya pemasaran, terutama untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, dengan meningkatnya perhatian wisatawan dan dukungan dari berbagai pihak, peluang pengembangan produk ini masih sangat terbuka.

Bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, membawa pulang tas “situk” bukan sekadar membeli barang kerajinan. Lebih dari itu, tas ini menjadi simbol perjalanan—mengabadikan pengalaman menjelajah alam liar, berinteraksi dengan masyarakat lokal, serta menyaksikan bagaimana limbah sederhana dapat diolah menjadi karya bernilai tinggi.

Di ujung perjalanan dari Rawa Singkil Wildlife Reserve, tas pelepah pinang ini menjadi pengingat bahwa keindahan wisata tidak hanya terletak pada apa yang dilihat, tetapi juga pada cerita yang dibawa pulang. Sebuah cerita tentang alam, budaya, dan semangat perempuan desa yang terus berkarya dari hal-hal sederhana.[***]