Camping di Bekas Markas Kolonial? Sensasi Unik di Bivak Belanda

Redaksi
Bivak Belanda
Bivak Belanda
A-AA+A++

Habanusantara.net – Di balik rimbunnya perbukitan Aceh Selatan, tersembunyi sebuah destinasi yang menawarkan pengalaman tak biasa: berkemah di kawasan bekas markas pertahanan kolonial. Namanya Bivak Belanda—sebuah situs sejarah yang kini mulai dilirik sebagai tujuan wisata alternatif yang memadukan petualangan alam dan jejak masa lalu.

Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung dapat memulai perjalanan dari pusat Tapaktuan. Dari kota, perjalanan darat menuju Gampong Panton Luas memakan waktu sekitar 20–30 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Akses jalan menuju desa relatif bisa dilalui, meski di beberapa titik masih berupa tanjakan dan jalan berbatu. Setibanya di kaki bukit, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalur setapak selama 15 hingga 30 menit, ditemani suasana hutan yang masih asri.

Sesampainya di lokasi, pengunjung langsung disambut panorama Samudra Hindia dari ketinggian. Sisa-sisa bangunan seperti fondasi batu, tangga tua, hingga struktur penampungan air masih terlihat jelas, menghadirkan nuansa historis yang kuat di tengah alam terbuka.

Kini, kawasan tersebut mulai dikembangkan sebagai lokasi camping. Suasana malam di Bivak Belanda menghadirkan sensasi tersendiri—sunyi, sejuk, dan jauh dari hiruk pikuk kota. Langit malam yang bersih membuat bintang tampak lebih dekat, sementara pagi hari menyuguhkan kabut tipis yang perlahan membuka pemandangan laut lepas.

Pejabat Keuchik Gampong Panton Luas, Ismaidi, mengatakan pengembangan kawasan ini berangkat dari keinginan masyarakat untuk mengangkat potensi desa yang selama ini belum tergarap maksimal.
“Tempat ini punya nilai sejarah dan keindahan alam yang luar biasa. Kami ingin menjadikannya sebagai destinasi wisata yang bisa memberi dampak ekonomi bagi warga,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat melalui kelompok sadar wisata mulai merancang berbagai fasilitas penunjang, termasuk area perkemahan dan rencana pembangunan replika bivak sebagai daya tarik tambahan bagi wisatawan.

Sementara itu, Warisatul Ambia menilai pengembangan Bivak Belanda tidak hanya sebatas membuka destinasi baru, tetapi juga menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda.


“Ini bukan sekadar tempat wisata, tapi ruang belajar tentang masa lalu. Di sini kita bisa melihat langsung jejak sejarah sekaligus menikmati keindahan alam dari ketinggian,” katanya.

Menurutnya, konsep wisata yang dikembangkan juga memiliki potensi besar untuk menarik minat wisatawan, terutama mereka yang menyukai pengalaman alam terbuka dan petualangan.
“Dengan konsep camping dan wisata sejarah, ini bisa jadi daya tarik unik. Apalagi pemandangan dari atas sangat luar biasa, langsung menghadap ke laut,” tambahnya.

Selain Bivak Belanda, kawasan Panton Luas juga memiliki sejumlah potensi lain seperti air terjun dan titik pandang alam yang belum banyak tersentuh. Kombinasi ini menjadikan wilayah tersebut sebagai destinasi yang menjanjikan untuk dikembangkan lebih jauh.

Kini, dari reruntuhan yang dulu nyaris terlupakan, harapan baru mulai tumbuh. Warga setempat bersama generasi muda berupaya menghidupkan kembali kawasan ini sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga berkelanjutan.

Bagi para pelancong, berkemah di Bivak Belanda bukan sekadar liburan—melainkan pengalaman menyatu dengan sejarah dan alam dalam satu perjalanan.[***]