Habanusantara.net, Di antara lekuk perbukitan hijau Aceh Besar, ada satu tempat yang belakangan ini sering disebut-sebut para pencinta alam—Air Terjun Suhom. Lokasinya memang tidak berada di pusat keramaian, justru itu yang membuatnya istimewa. Jauh dari hiruk-pikuk kota, suara alam di sini terasa lebih jujur: gemuruh air, desir angin, dan hening yang menenangkan.
Perjalanan menuju lokasi dimulai dari Banda Aceh. Dengan waktu tempuh sekitar satu jam, rute menuju Suhom bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan bagian dari pengalaman itu sendiri.
Jalanan berkelok di kawasan Lhoong menyuguhkan lanskap yang berubah-ubah—dari pesisir, perbukitan, hingga hutan tropis yang semakin rapat. Udara pun perlahan terasa lebih dingin, seolah memberi isyarat bahwa Anda sedang mendekati tempat yang berbeda.
Akses menuju air terjun tergolong ramah bagi kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun, pengunjung tetap perlu berhati-hati karena beberapa titik memiliki tikungan tajam dan tanjakan.
Setibanya di area parkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang relatif mudah dilalui. Tak butuh waktu lama, suara air yang jatuh dari ketinggian mulai terdengar—menjadi penanda bahwa tujuan sudah dekat.
Air Terjun Suhom tampil tanpa polesan berlebih. Airnya jatuh bertingkat, mengalir jernih di antara bebatuan besar yang diselimuti lumut. Di bagian bawah, terbentuk kolam alami yang kerap dimanfaatkan pengunjung untuk bermain air atau sekadar merendam kaki. Suhu air yang dingin berpadu dengan udara pegunungan menciptakan sensasi segar yang langsung terasa sejak sentuhan pertama.
Tak sedikit pengunjung yang datang hanya untuk duduk diam. Mereka memilih menikmati suasana, mendengarkan alam, atau sekadar memandangi aliran air yang tak pernah berhenti. Bagi sebagian orang, tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang untuk “mengosongkan kepala” dari rutinitas yang melelahkan.
Duta Wisata Kabupaten Aceh Besar, Resa Raditia, menyebut Suhom sebagai contoh destinasi yang memiliki daya tarik kuat justru karena kesederhanaannya.
“Sekarang banyak orang mencari tempat yang benar-benar alami, bukan yang terlalu dibangun. Suhom punya itu—tenang, bersih, dan masih sangat terjaga. Ini kekuatan utamanya,” ujar Resa saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, tren wisata saat ini mulai bergeser ke arah pengalaman yang lebih personal dan dekat dengan alam. Suhom, kata dia, menjawab kebutuhan tersebut tanpa harus banyak “berusaha”.
Sementara itu, Faisal, salah seorang warga setempat yang juga kerap berinteraksi dengan pengunjung, mengaku jumlah wisatawan terus meningkat, terutama di akhir pekan.![Air Terjun Suhom, Aceh Besar[Foto/HO Habanusantara]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2026/04/IMG_3723.JPG.jpeg)
“Kalau hari biasa memang lebih sepi, tapi justru itu yang dicari sebagian pengunjung. Mereka datang pagi, bawa bekal, lalu duduk lama di sini. Ada juga yang dari luar Aceh,” katanya.
Ia menambahkan, sebagian pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati air terjun, tetapi juga perjalanan menuju lokasi yang dianggap sebagai bagian paling menyenangkan.
Hal lain yang membuat Air Terjun Suhom berbeda adalah fungsinya bagi masyarakat sekitar. Aliran airnya dimanfaatkan sebagai sumber energi mikrohidro, yang membantu memenuhi kebutuhan listrik warga. Artinya, keberadaan air terjun ini tidak hanya bernilai wisata, tetapi juga memiliki peran nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Meski fasilitas di kawasan ini masih sederhana, seperti area parkir dan beberapa warung kecil, hal tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. Tidak ada hiruk-pikuk komersial berlebihan—yang ada hanya alam dan ketenangan.
Namun, pengunjung tetap diingatkan untuk berhati-hati, terutama saat berada di area bebatuan yang licin. Selain itu, menjaga kebersihan menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Keindahan Suhom hari ini sangat bergantung pada kesadaran setiap orang yang datang.
Air Terjun Suhom bukan destinasi yang menawarkan gemerlap. Ia hadir dengan cara yang sederhana, tapi justru itu yang membuatnya berkesan. Di sini, waktu terasa berjalan lebih lambat, dan alam seolah mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak—menarik napas, dan benar-benar hadir.[***]





