Habanusantara.net, Kota Sabang bukan sekadar titik nol kilometer atau surga bagi para penyelam yang memuja keindahan bawah laut. Di balik rimbunnya pepohonan tropis dan garis pantai yang memukau, tersembunyi deretan bangunan tua yang seolah menolak renta dimakan usia.
Menyusuri kawasan perbukitan hingga area pelabuhan di Pulau Weh, kita akan disuguhi pemandangan arsitektur bergaya kolonial yang masih berdiri kokoh dengan dinding tebal dan jendela-jendela besar yang ikonik.
Bangunan-bangunan ini bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan saksi bisu kejayaan Sabang sebagai pelabuhan bebas atau “vrijhaven” paling sibuk di nusantara pada awal abad ke-20.
Pada masa itu, Sabang menjadi simpul penting jalur perdagangan internasional. Kapal-kapal dari Eropa, Timur Tengah, hingga Asia Timur singgah untuk mengisi logistik sebelum melanjutkan perjalanan.
Aktivitas tersebut mendorong pembangunan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari kantor administrasi, gudang logistik, hingga hunian pejabat kolonial. Tak heran jika jejak arsitektur Belanda di kota ini terasa begitu kuat dan menyatu dengan lanskapnya.
Jejak arsitektur kolonial Belanda ini tersebar di berbagai titik strategis, mulai dari gedung perkantoran di bawah naungan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, rumah sakit tua, hingga rumah-rumah dinas pejabat Koninklijke Paketvaart Maatschappij.
Dibangun mayoritas pada akhir abad ke-19, struktur ini memiliki daya tahan yang luar biasa karena menggunakan material berkualitas tinggi seperti batu bata padat dan kayu pilihan.
Selain itu, desainnya juga memperhatikan aspek iklim tropis, dengan ventilasi silang, langit-langit tinggi, serta jendela besar yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan optimal.
Ketahanan bangunan ini melintasi berbagai zaman—mulai dari era penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang saat Perang Dunia II, hingga tetap fungsional di tahun 2026—menjadi bukti bahwa kualitas konstruksi masa lalu mampu menjawab tantangan modernitas.
Beberapa bangunan bahkan masih digunakan hingga kini, baik sebagai kantor pemerintahan, fasilitas umum, maupun rumah tinggal, tanpa kehilangan karakter aslinya.
Di sela-sela lorong bangunan tua tersebut, suasana terasa begitu hidup meski dibalut nuansa masa lalu. Cat yang mulai memudar, kusen kayu yang tetap kokoh, hingga lantai tegel klasik yang masih terjaga, semuanya menghadirkan atmosfer yang sulit ditemukan di kota-kota modern.
Ada semacam ketenangan yang muncul saat berjalan di antara bangunan ini, seolah waktu berjalan lebih lambat.
“Di Sabang tidak hanya menikmati alamnya, tapi juga bisa melihat peninggalan sejarah dari bangunan-bangunannya. Ini sangat bagus untuk pembelajaran sejarah bagi anak-anak saat ini, apalagi bangunannya masih sangat kokoh,” ujar seorang wisatawan asal Malaysia yang ditemui saat mengunjungi kawasan tersebut.

Ia mengaku terkesan dengan bagaimana bangunan tua ini tetap terawat dan memiliki fungsi hingga sekarang.
Dukungan untuk melestarikan bangunan-bangunan ini juga datang dari para penggerak pariwisata daerah. Dalam kacamata pariwisata, arsitektur kolonial ini adalah “tambang emas” yang memberikan warna berbeda bagi wajah Kota Sabang melalui wisata minat khusus berbasis sejarah.
Tidak sedikit wisatawan yang datang bukan hanya untuk menyelam atau menikmati pantai, tetapi juga untuk menelusuri jejak masa lalu yang masih nyata berdiri di hadapan mereka.
“Sabang itu unik karena ia adalah perpaduan keindahan alam dan sejarah kolonial yang kental. Sebagai Duta Wisata, kami melihat arsitektur ini sebagai daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari narasi masa lalu. Bangunan ini adalah saksi sejarah yang harus terus kita gaungkan ceritanya, agar dunia tahu bahwa Sabang pernah menjadi jendela internasional bagi nusantara,” ujar Humaira, Duta Wisata Sabang.
Lebih jauh, keberadaan bangunan kolonial ini juga membuka peluang edukasi yang luas. Sekolah-sekolah dapat menjadikannya sebagai ruang belajar terbuka, di mana siswa tidak hanya membaca sejarah dari buku, tetapi juga melihat langsung bentuk fisik peninggalannya. Hal ini tentu memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan berkesan.![Dubbele Woonhuis (Rumah Ganda) Peninggalan Belanda di sabang [Foto/HO Habanusantara/Humaira]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-20-at-15.56.14-1.jpeg)
Menapaki jejak arsitektur Belanda di Sabang pada akhirnya menjadi perjalanan melintasi lorong waktu yang penuh makna.
Bangunan-bangunan ini, dengan segala kemegahan sisa-sisanya, adalah pengingat bahwa di ujung paling barat Indonesia, sejarah pernah tertulis dengan sangat megah.
Upaya kolektif untuk menjaga mereka tetap berdiri tegak bukan hanya soal pelestarian fisik, tetapi juga menjaga identitas dan ingatan kolektif.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, keberadaan bangunan-bangunan tua ini menjadi jangkar yang menahan kita agar tidak sepenuhnya tercerabut dari masa lalu. Mereka berdiri diam, namun menyimpan cerita yang terus berbicara.
Dan selama bangunan-bangunan itu masih tegak, selama itu pula denyut sejarah akan tetap hidup di Pulau Weh.[***]

![Gedung countroleur ( kantor administrasi Belanda) [Foto/HO Habanusantara/Humaira]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-20-at-15.56.13.jpeg)



